fin.co.id - tegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Gencatan senjata yang baru saja diumumkan antara Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) kini berada di ambang kehancuran.
Situasi tersebut dipicu oleh serangan besar-besaran yang dilakukan Israel terhadap wilayah Lebanon, yang menimbulkan ratusan korban jiwa hanya dalam hitungan jam.
Pemerintah Iran bahkan secara terbuka memperingatkan Washington bahwa mereka harus memilih: mempertahankan gencatan senjata atau membiarkan perang terus berlangsung melalui sekutunya di kawasan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa syarat-syarat gencatan senjata sudah sangat jelas.
Menurutnya, Amerika tidak bisa menikmati situasi damai di satu sisi sambil tetap membiarkan serangan militer Israel berlangsung di sisi lain.
“Amerika harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. Amerika tidak bisa memiliki keduanya,” tulis Araghchi dalam pernyataannya di platform X.
Ia juga menegaskan bahwa dunia saat ini sedang menyaksikan situasi yang terjadi di Lebanon.
“Bola ada di tangan Amerika dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya,” tambahnya.
Serangan Udara Israel Tewaskan Ratusan Warga
Situasi memanas setelah militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di berbagai wilayah Lebanon.
Dalam waktu sekitar 10 menit, lebih dari 100 lokasi dilaporkan menjadi target serangan.
Beberapa wilayah yang terkena dampak antara lain:
-
Beirut
-
Lembah Beqaa
-
Gunung Lebanon
-
Lebanon Selatan
Menurut otoritas kesehatan setempat, jumlah korban tewas mencapai 254 orang, dengan 92 di antaranya berada di Beirut.