Internasional . 12/04/2026, 13:18 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Menurutnya, banyak kesepakatan di masa lalu yang dinilai tidak pernah dijalankan secara konsisten oleh pihak Amerika.
“Pengalaman kami bernegosiasi dengan Amerika selalu berujung pada kegagalan dan janji yang dilanggar,” ujar Ghalibaf.
Pernyataan tersebut mencerminkan tingkat ketidakpercayaan yang masih tinggi antara kedua negara, yang selama beberapa dekade terlibat dalam konflik geopolitik.
Menurut laporan kantor berita Agence France-Presse (AFP), perundingan di Islamabad sebenarnya merupakan salah satu pertemuan tingkat tinggi paling penting antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir.
Pertemuan ini digelar di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh setelah konflik militer pecah sejak 28 Februari 2026.
Konflik tersebut bermula dari serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Teheran dengan berbagai aksi militer yang memperluas ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut tidak hanya berdampak pada stabilitas regional, tetapi juga mengguncang perekonomian global, terutama di sektor energi.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat selama beberapa bulan terakhir telah memberikan dampak luas terhadap berbagai sektor.
Beberapa dampak yang paling terasa antara lain:
Lonjakan harga minyak dunia
Ketidakpastian pasar energi global
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah
Gangguan terhadap jalur perdagangan internasional
Banyak negara kini mengkhawatirkan bahwa kegagalan negosiasi ini dapat memperpanjang konflik dan memperburuk stabilitas kawasan. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media