Nasional

Terungkap! Bos BGN Blak-blakan Soal Anggaran EO Rp113,9 Miliar, Klaim Sudah Sesuai Aturan!

penggunaan jasa event organizer (EO) oleh Badan Gizi Nasional (BGN) langsung memicu perdebatan luas. Perbincangan ini bermula dari unggahan di media sosial yang menyebut nilai anggaran untuk jasa EO mencapai lebih dari Rp113 miliar.

Terungkap! Bos BGN Blak-blakan Soal Anggaran EO Rp113,9 Miliar, Klaim Sudah Sesuai Aturan!
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana memberikan keterangan pers terkait transparansi penggunaan anggaran jasa EO untuk program strategis nasional.Foto;Kemensetnegri

Sebagian besar kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi komunikasi publik pemerintah dalam menyampaikan isu gizi kepada masyarakat.

Beberapa kegiatan yang melibatkan EO antara lain:

Menurut BGN, kualitas penyelenggaraan kegiatan menjadi faktor penting agar pesan pemerintah dapat tersampaikan secara efektif.

“Oleh karena itu, kualitas penyelenggaraan menjadi krusial. EO berperan memastikan pesan pemerintah dapat dikemas secara efektif, menarik, dan berdampak luas,” ujar Dadan.

Selain mengatur kegiatan teknis, event organizer juga memberikan masukan strategis terkait komunikasi publik.

Hal tersebut mencakup:

  • Strategi penyampaian pesan kepada masyarakat

  • Pengelolaan audiens kegiatan

  • Konsep acara yang menarik dan informatif

  • Optimalisasi penggunaan anggaran

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap program gizi nasional dapat lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Daftar Perusahaan EO Jadi Sorotan

Polemik mengenai anggaran EO ini mencuat setelah beredar daftar perusahaan penyedia jasa yang bekerja sama dengan BGN.

Dalam daftar tersebut terdapat 16 perusahaan yang mengerjakan 16 paket pekerjaan dengan total nilai kontrak mencapai Rp113.916.541.381.

Beberapa perusahaan yang paling banyak disorot antara lain:

  • PT Maria Utara Jaya dengan nilai kontrak sekitar Rp18,47 miliar

  • PT Anugrah Duta Promosindo dengan total sekitar Rp17,42 miliar untuk empat paket pekerjaan

  • PT Falah Eka Cahya dengan nilai kontrak sekitar Rp16,59 miliar

Besarnya nilai kontrak ini menjadi perbincangan publik, terutama di tengah upaya pemerintah melakukan efisiensi anggaran.

Berita Terkait