Nasional . 14/04/2026, 15:36 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Namun, besarnya kekuatan finansial di balik pengadaan pesawat ini justru semakin mempertebal rasa penasaran publik mengenai siapa sebenarnya kekuatan besar di belakang Yenna.
Menanggapi isu motor listrik tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa ribuan kendaraan itu memang merupakan bagian dari perencanaan anggaran 2025 dan statusnya masih "terkunci" secara administratif.
"Motor tersebut hingga saat ini belum didistribusikan ke pihak mana pun. Semua unit yang tersedia harus melalui pencatatan ketat sebagai Barang Milik Negara (BMN) sebelum dapat digunakan untuk operasional Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)," tegas Dadan Hindayana.
Dadan juga menepis kabar yang menyebutkan pengadaan motor listrik mencapai angka 70 ribu unit. Ia mengonfirmasi bahwa informasi yang beredar di media sosial tersebut tidak benar.
Berdasarkan data resmi, realisasi total pengadaan motor listrik adalah sebanyak 21.801 unit, dari total pesanan awal 25.000 unit pada tahun anggaran 2025. Proses realisasi ini diklaim telah dimulai secara bertahap sejak Desember 2025.
Meskipun klasifikasi administrasi sedang berjalan, publik tetap menyoroti ketatnya mekanisme penunjukan vendor.
Secara logika bisnis, pemenang tender 21.801 hingga 25.000 unit kendaraan idealnya memiliki infrastruktur besar. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan hal yang berbeda:
• Lokasi kantor terletak di gang sempit kawasan pemukiman padat di Jakarta Barat.
• Aktivitas minim, meski memegang proyek bernilai triliunan rupiah.
• Pengamanan ekstra, dengan penjagaan polisi sejak 10 April 2026 yang dipicu oleh isu rencana demonstrasi masyarakat.
Kondisi ini memunculkan dugaan adanya ciri khas "perusahaan boneka", yaitu entitas yang dipinjam namanya atau diaktifkan kembali untuk memenangkan proyek tertentu tanpa memiliki kapasitas riil.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media