fin.co.id - Lembaga keuangan internasional, International Monetary Fund (IMF), secara resmi merevisi ke bawah prospek pertumbuhan ekonomi global pada Selasa waktu setempat. Keputusan ini berakar pada lonjakan harga energi yang tak terkendali sebagai dampak langsung dari eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.
IMF mencatat bahwa gangguan pasokan energi yang terus terjadi di Selat Hormuz memaksa dunia bergeser ke arah skenario ekonomi yang lebih kelam. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan perlambatan aktivitas ekonomi di berbagai negara maju maupun berkembang.
Tiga Skenario Masa Depan Ekonomi Dunia
Laporan terbaru IMF memetakan tiga jalur kemungkinan pertumbuhan ekonomi tahun ini. Ketiganya sangat bergantung pada durasi dan intensitas ketegangan di Timur Tengah:
Skenario Optimistis: Konflik berakhir singkat, harga minyak kembali stabil pada angka rata-rata 82 per barel di paruh kedua tahun 2026.
Skenario Risiko Sedang: Konflik berlangsung lebih lama, harga minyak bertahan di angka 100 per barel tahun ini. Dalam kondisi ini, pertumbuhan global diprediksi melambat menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 3,4 persen pada 2025.
Skenario Terburuk: Dunia berada di ambang resesi dengan harga minyak melonjak hingga rata-rata 110 per barel pada 2026 dan menembus 125 per barel pada 2027.
Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, memberikan peringatan keras bahwa realita saat ini cenderung bergerak menjauhi skenario optimistis. Menurutnya, gangguan energi yang belum menemui titik terang membuat skenario terburuk menjadi semakin realistis untuk terjadi.
"Setiap hari yang berlalu dengan gangguan di bidang energi, kita semakin mendekati skenario buruk," tegas Gourinchas menanggapi situasi pasar saat ini.
Potensi Pertumbuhan yang Terhambat
Padahal, sebelum konflik Timur Tengah meletus, IMF melihat adanya sinyal positif bagi pemulihan ekonomi dunia. Tanpa adanya gejolak geopolitik, ekonomi global memiliki potensi tumbuh hingga 3,4 persen.
Sejumlah faktor pendukung pertumbuhan tersebut meliputi:
Peningkatan investasi di sektor teknologi tinggi secara berkelanjutan.
Kebijakan suku bunga yang mulai melandai di beberapa kawasan.
Longgarnya tarif perdagangan Amerika Serikat.