fin.co.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Jetis, Bantul, harus terhenti sementara setelah insiden keracunan massal menimpa puluhan warga sekolah. SMPN 3 Jetis secara resmi menyatakan menolak kiriman makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna menghindari jatuhnya korban tambahan.
Kepala SMPN 3 Jetis, Widodo, mengonfirmasi bahwa penghentian pasokan makanan ini berlaku efektif sejak Selasa 14 April 2026 kemarin. Langkah ini merupakan respons cepat pihak sekolah atas situasi yang tidak kondusif saat proses belajar mengajar terganggu oleh banyaknya siswa yang jatuh sakit secara bersamaan.
Kronologi dan Sebaran Korban
Gejala keracunan mulai muncul sejak Senin, 13 April 2026, tak lama setelah siswa dan guru menyantap menu makan siang yang disediakan pemerintah. Hingga Rabu 15 April 2026, tercatat sebanyak 75 siswa dan sekitar 30 guru SMPN 3 Jetis mengalami gejala serupa seperti mual, pusing, diare, dan muntah.
Widodo menjelaskan bahwa mayoritas siswa kini sudah kembali masuk sekolah. Namun, para siswa yang sempat menjalani perawatan intensif di puskesmas masih mendapatkan izin untuk beristirahat di rumah.
"Yang kemarin ke Puskesmas itu masih kami izinkan di rumah untuk memulihkan stamina dan psikisnya," ujar Widodo saat memberikan keterangan di Jetis, Bantul, Rabu 15 April 2026.
Data dari Pemerintah Kabupaten Bantul menunjukkan cakupan korban ternyata lebih luas. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bantul, Hermawan Setiaji, menyebutkan total korban mencapai 80 orang, termasuk satu siswa dan dua guru dari sekolah swasta lain di wilayah Jetis.
Dugaan Menu Ayam Bakar Bermasalah
Meskipun masih menunggu hasil resmi otoritas kesehatan, pihak sekolah mencurigai salah satu komponen dalam menu MBG menjadi pemicu utama. Menu yang tersaji hari itu meliputi nasi, ayam bakar, sayur sawi, tahu goreng, dan buah semangka.
Pihak sekolah mengidentifikasi ayam bakar sebagai item yang paling mencurigakan berdasarkan kesaksian para guru dan siswa yang mendistribusikan makanan secara langsung.
"Dari teman-teman itu yang kemarin mendistribusikan ke anak-anak secara langsung, itu sepertinya diduga ayamnya," ungkap Widodo.
Penanganan Medis dan Uji Laboratorium
Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul telah bergerak cepat dengan mengamankan sampel sisa makanan untuk pengujian lebih lanjut. Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto, memastikan seluruh sampel kini berada di laboratorium untuk mengetahui jenis bakteri atau kontaminan yang terkandung di dalamnya.
Di sisi lain, operasional SPPG yang menyuplai makanan tersebut kini menjadi sorotan. Satgas Kabupaten Bantul mendesak agar unit pelayanan tersebut ditutup total hingga hasil investigasi keluar. Namun, keputusan final mengenai status operasional SPPG tersebut masih menunggu instruksi dari pemerintah pusat.
Kondisi para korban saat ini dilaporkan sudah mulai stabil dan dalam pemantauan tim medis setempat. Insiden ini menjadi evaluasi serius bagi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di tingkat daerah agar standar sanitasi dan keamanan pangan lebih diperketat ke depannya.