fin.co.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu ketidakpastian global terkait kelanjutan perang melawan Iran. Menjelang berakhirnya masa gencatan senjata pada Rabu 22 April 2026 besok, Trump justru mengeluarkan pernyataan yang saling bertolak belakang antara optimisme negosiasi dan ancaman serangan militer besar-besaran.
Dalam berbagai pernyataan di media sosial dan wawancara telepon, Senin 20 April 2026, Trump memberikan sinyal yang membingungkan. Meski mengaku yakin perundingan lanjutan di Islamabad, Pakistan, akan segera terlaksana, ia tetap memperingatkan bahwa "banyak bom" akan mulai diledakkan jika kesepakatan gagal dicapai sebelum tenggat waktu.
Sikap Keras Teheran: Ogah Negosiasi di Bawah Ancaman
Rencana Trump untuk mengutus Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan tampaknya akan menemui jalan buntu. Pihak Iran secara tegas menyatakan tidak akan hadir dalam meja perundingan selama Trump tidak menurunkan tuntutannya yang dianggap keterlaluan.
Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama Iran, Mohammed Bagher Qalibaf, menuding Amerika Serikat hanya menginginkan Iran menyerah tanpa syarat. Melalui unggahan di platform X, Qalibaf menegaskan bahwa Iran justru sedang menyiapkan "kartu baru" di medan tempur.
“Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman,” tegas Qalibaf dalam keterangannya yang dikutip pada Selasa pagi.
Selat Hormuz Membara: Harga Minyak Dunia Melonjak
Ketegangan di lapangan kian memanas setelah Angkatan Laut AS menyita sebuah kapal kargo Iran pada Minggu lalu. Aksi ini dibalas Iran dengan melepaskan tembakan dan menutup total lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati seperlima perdagangan minyak dunia.
Akibat kekacauan ini, harga minyak mentah Brent meroket ke angka 95 per barel, naik drastis dari posisi sebelum perang yang hanya berkisar 70. Krisis energi global pun kini berada di depan mata akibat blokade yang terus berlanjut.
Meskipun harga bahan bakar menghimpit warga dunia, Trump bersikeras tidak akan mencabut blokade pelabuhan Iran sampai Teheran tunduk pada syarat-syaratnya. "Saya sama sekali tidak merasa tertekan (untuk mengakhiri perang)," tulis Trump di Truth Social.
Korban Jiwa Tembus 3.000 Orang
Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, jumlah korban jiwa terus berjatuhan. Data resmi dari Organisasi Kedokteran Legal Iran menyebutkan sedikitnya 3.375 orang tewas di Iran, termasuk 383 anak-anak. Sementara itu, belasan tentara Amerika Serikat dan Israel juga dilaporkan gugur dalam konflik yang sudah berlangsung selama tujuh minggu ini.
Di tengah situasi amburadul ini, Trump justru menyerang balik para kritikus di dalam negerinya, terutama dari Partai Demokrat, yang mendesaknya untuk segera melakukan perdamaian. Ia mengklaim bahwa posisi militer Iran sudah di ambang kekalahan, sehingga tidak ada alasan bagi AS untuk mundur sekarang.
"Bagaimana mungkin ada orang yang meminta damai sekarang saat kita sudah menempatkan Iran dalam posisi yang sempurna untuk dikalahkan secara militer?" ketus Trump kepada New York Post.