Megapolitan . 22/04/2026, 21:49 WIB

Workshop “Betawi Re-Write” Dorong Penulisan Sejarah Lisan untuk Perkuat Identitas Budaya

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Minimnya literasi tentang budaya Betawi serta perlunya penguatan pemahaman terhadap objek pemajuan kebudayaan menjadi perhatian serius Perkumpulan Betawi Kita. Bersama Lembaga Kebudayaan Betawi dan Forum Jurnalis Betawi, mereka menggelar kegiatan bertajuk BETAWI RE-WRITE: Workshop Penulisan Sejarah dan Budaya Betawi Berbasis Sejarah Lisan dan Digital Storytelling dengan tema “Menulis Sejarah, Merawat Ingatan” pada Selasa, 21 April 2026.

Kegiatan yang berlangsung di lantai 4 Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, ini diikuti sekitar 20 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas, praktisi, pelaku seni budaya, hingga akademisi. Para peserta diharapkan mampu menjadi agen dalam pelestarian sejarah dan budaya Betawi.

Workshop ini menjadi wadah kolaboratif bagi pegiat budaya, jurnalis, dan akademisi untuk menggali kembali ingatan kolektif masyarakat Betawi melalui pendekatan sejarah lisan serta pengemasan cerita secara digital.

Ketua panitia, Fadjriah Nurdiarsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini terselenggara berkat dukungan program fasilitasi pemajuan kebudayaan dari pemerintah. Ia menekankan pentingnya penguatan kapasitas dalam menulis sejarah berbasis pengalaman dan memori kolektif yang diperkuat dengan kajian akademik.

“Harapannya, peserta mampu menulis opini, feature atau membuat konten digital yang mengangkat kembali ingatan keluarga dan komunitas. Jika dibukukan, ini bisa menjadi warisan berharga bagi generasi berikutnya,” jelas Fadjriah dalam keterangan, Rabu, 22 April 2026.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Banten, Swedhie Hananta, menyampaikan bahwa tahun ini DKI Jakarta mendapatkan delapan titik fasilitasi kebudayaan dari total 26 penerima bantuan. Ke depan, pengelolaan program tersebut akan dialihkan ke Balai Pelestarian Jakarta yang baru dibentuk.

Hal ini disambut Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan DKI Jakarta, Desse Yussubrasta, yang menegaskan pihaknya tengah memperkuat kelembagaan serta mendorong sinergi lintas sektor dalam upaya pelestarian budaya.

“Saat ini kami sedang menyiapkan kantor serta memperkuat fungsi pelestarian kebudayaan. Kolaborasi menjadi kunci,” katanya.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar bisa diangkat menjadi narasi yang lebih kuat dalam merawat ingatan kolektif,” tambahnya.

Dalam sesi materi, narasumber dari Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, mengkritik anggapan yang menyederhanakan identitas Betawi sebagai produk kolonial semata.

“Betawi sering disebut sebagai suku ‘termuda’, padahal jejak sejarahnya jauh lebih panjang, bahkan sebelum Batavia,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi sejumlah situs budaya yang membutuhkan perhatian serius, mengingat banyak jejak sejarah yang mulai hilang akibat pembangunan modern.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar bisa diangkat menjadi narasi yang lebih kuat dalam merawat ingatan kolektif,” tambahnya.

Menurut Yahya, temuan arkeologis menunjukkan ratusan situs pernah tersebar di wilayah Jakarta dan sekitarnya, termasuk kawasan pesisir hingga pedalaman seperti Marunda, Bekasi, dan wilayah utara Jakarta yang memiliki keterkaitan dengan kerajaan besar seperti Tarumanegara dan Sriwijaya.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com