Fin.co.id - Washington mengancam penggunaan senjata pemusnah massal (genosida) untuk menghancurkan Iran. Namun, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan dirinya tidak akan menekan "tombol nuklir" untuk melumpuhkan Iran.
Keputusan ini diambil meskipun sebelumnya Trump sempat mengeluarkan ancaman mengerikan mengenai kehancuran peradaban Iran secara total.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menyatakan kekuatan militer konvensional Amerika Serikat dan sekutunya sudah cukup untuk melumpuhkan infrastruktur strategis Teheran tanpa perlu memicu kiamat nuklir.
"Tidak, saya tidak akan menggunakannya (senjata nuklir). Mengapa saya harus menggunakan senjata nuklir ketika kita telah, dengan cara yang sangat konvensional, menghancurkan mereka tanpa itu? Sebuah senjata nuklir tidak boleh pernah diizinkan untuk digunakan oleh siapa pun," tegas Donald Trump.
Ancaman Genosida Hingga Gencatan Senjata
Ketegangan mencapai puncaknya pada 7 April 2026, ketika Trump melalui platform media sosialnya melontarkan ancaman yang sangat provokatif.
Trump menyebut seluruh peradaban Iran akan mati dan tidak akan pernah bangkit kembali.
Retorika ini segera memicu gejolak di pasar energi global, dengan harga minyak mentah melonjak melewati ambang batas normal akibat kekhawatiran penutupan total Selat Hormuz.
Namun, hanya dalam hitungan jam setelah ancaman tersebut, Trump setuju untuk menandatangani pakta gencatan senjata sementara.
Hingga akhir April 2026, gencatan senjata ini terus diperpanjang secara periodik.
Strategi ini diduga merupakan bagian dari tekanan diplomasi tingkat tinggi yang dijalankan Amerika Serikat dan Israel untuk memaksa Iran menghentikan seluruh program pengayaan uraniumnya.
Meskipun Trump menolak opsi nuklir, Wakil Presiden JD Vance tetap mempertahankan nada bicara yang agresif.
Dalam serangkaian negosiasi yang dilaporkan menemui jalan buntu, Vance memperingatkan bahwa AS memiliki persenjataan mutakhir yang belum pernah dipublikasikan atau digunakan dalam medan perang mana pun.
Spekulasi di kalangan pengamat militer internasional menyebutkan senjata yang dimaksud Vance kemungkinan besar adalah unit Cyber-Electromagnetic Pulse (CEMP) atau rudal hipersonik non-nuklir dengan presisi tinggi yang mampu melumpuhkan seluruh jaringan listrik negara tanpa radiasi.
Gedung Putih sendiri telah membantah pernyataan Vance merujuk pada hulu ledak nuklir, namun menekankan Iran harus memberikan konsesi besar jika ingin menghindari kerusakan yang lebih parah.