Megapolitan . 06/05/2026, 19:50 WIB

Fenomena Ibu Kota! Warga Kabur dari Jakarta, Ribuan Orang Angkat Kaki Usai Lebaran 2026, Ada Apa?

Penulis : Derry Sutardi  |  Editor : Derry Sutardi

fin.co.id - Fenomena perpindahan penduduk kembali terjadi di Jakarta usai Lebaran 2026. Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta mencatat sebanyak 22.617 warga keluar dari ibu kota, jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah pendatang baru yang masuk, yakni 12.766 jiwa.

Kepala Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, menyebut kondisi ini sebagai fenomena yang cukup menonjol tahun ini. Menurutnya, perpindahan ini tidak hanya dipengaruhi faktor administratif, tetapi juga dinamika sosial dan ekonomi masyarakat yang terus berubah.

Salah satu alasan utama perpindahan adalah penyesuaian data kependudukan. Banyak warga yang sebenarnya sudah lama tinggal di wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, namun baru mengubah alamat KTP mereka sesuai domisili saat ini.

Selain itu, tingginya biaya hidup di Jakarta juga menjadi faktor utama. Harga hunian yang terus meningkat, kebutuhan pokok yang mahal, hingga ongkos transportasi yang tinggi membuat sebagian warga memilih pindah ke daerah dengan biaya hidup lebih terjangkau.

“Banyak warga memilih bergeser ke kota penyangga karena lebih ekonomis, apalagi sekarang pusat ekonomi juga mulai berkembang di luar Jakarta,” ujar Denny.

Didominasi Usia Produktif

Menariknya, data menunjukkan mayoritas warga yang keluar berasal dari kelompok usia produktif, yakni mencapai 71,57 persen. Dari jumlah tersebut, sekitar 64,53 persen merupakan masyarakat berpenghasilan rendah.

Faktor perumahan menjadi alasan terbesar perpindahan, mencapai 33,92 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan tempat tinggal yang layak dan terjangkau masih menjadi tantangan utama di ibu kota.

Tak hanya soal ekonomi, kualitas hidup juga menjadi alasan kuat warga meninggalkan Jakarta. Masalah polusi udara, kemacetan lalu lintas, hingga risiko banjir mendorong masyarakat mencari lingkungan yang lebih nyaman.

Wilayah penyangga kini dianggap sebagai alternatif ideal karena menawarkan suasana yang lebih “hijau”, namun tetap terhubung dengan transportasi publik seperti MRT, LRT, dan KRL.

Tren Deurbanisasi Meningkat

Fenomena ini mencerminkan tren deurbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari pusat kota ke daerah sekitar. Meski demikian, Jakarta tetap menjadi pusat ekonomi nasional.

Perubahan ini lebih menggambarkan transformasi pola hunian dan aktivitas masyarakat dalam kawasan aglomerasi. Warga tetap bekerja di Jakarta, tetapi memilih tinggal di wilayah penyangga demi kualitas hidup yang lebih baik.

Ke depan, tren ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring meningkatnya biaya hidup di ibu kota dan berkembangnya infrastruktur di daerah sekitar Jakarta. (*)

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com