fin.co.id - Pelayanan kesehatan saat ini dinilai tidak lagi bisa hanya mengandalkan pendekatan konvensional. Perkembangan teknologi digital membuat sektor kesehatan harus ikut beradaptasi agar pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih cepat, merata, dan efisien.
Hal itu yang mendorong Pemerintah Provinsi Banten menghadirkan program Mobile Klinik berbasis telemedicine sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan di daerah.
Gubernur Banten, Andra Soni mengatakan program tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas akses kesehatan bagi masyarakat, khususnya di wilayah yang masih sulit dijangkau fasilitas medis.
“Pemerintah Provinsi Banten melaksanakan program Mobile Klinik berbasis telemedicine sebagai pelengkap pelayanan kesehatan,” ujar Andra Soni dalam Seminar Transformasi Digital Layanan Kesehatan di Indonesia yang digelar di Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Jakarta, Selasa 19 Mei 2026.
Menurut Andra Soni, kondisi geografis dan infrastruktur jalan di Banten menjadi salah satu tantangan besar dalam pemerataan layanan kesehatan.
Ia menyebut total sekitar 11 ribu kilometer jalan di luar jalan nasional menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan program Mobile Klinik.
“Topografi dan kondisi 11 ribu kilometer jalan di luar jalan nasional turut menjadi pertimbangan pelaksanaan program Mobile Klinik,” katanya.
Meski Provinsi Banten menjadi salah satu daerah dengan jumlah rumah sakit cukup banyak, distribusi pelayanan kesehatan disebut masih belum merata karena luasnya wilayah dan akses masyarakat di daerah terpencil.
Melalui Mobile Klinik berbasis telemedicine, masyarakat diharapkan bisa mendapatkan layanan kesehatan lebih mudah tanpa harus datang jauh-jauh ke rumah sakit besar.
Pemprov Banten Gandeng BRIN
Dalam kesempatan tersebut, Andra Soni juga menegaskan bahwa Pemprov Banten terbuka terhadap berbagai hasil riset dan inovasi dari para peneliti BRIN.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan peneliti dinilai penting untuk mempercepat transformasi digital di bidang kesehatan.
Menurutnya, sinergi tersebut sudah mulai diwujudkan melalui penerapan Mobile Klinik berbasis telemedicine yang saat ini dikembangkan di Banten.
Dari seminar tersebut, Pemprov Banten juga mendapatkan sejumlah rekomendasi penting terkait pengembangan layanan kesehatan digital ke depan.
Beberapa poin utama yang menjadi perhatian antara lain keamanan data medis pasien, peningkatan literasi digital tenaga kesehatan dan masyarakat, hingga pengembangan alat kesehatan dalam negeri dengan harga terjangkau namun tetap berkualitas tinggi.
“Mari kita jadikan teknologi sebagai alat untuk memberikan layanan kesehatan yang lebih adil, merata, dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Andra Soni.
Di lokasi yang sama, Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, Agus Eko Nugroho mengatakan pelayanan kesehatan menjadi aspek penting dalam menyongsong Generasi Emas 2045.
Menurutnya, transformasi layanan kesehatan digital tidak hanya soal penggunaan teknologi, tetapi juga harus dibarengi dengan kebijakan birokrasi yang mendukung.
Ia juga menyoroti pentingnya keamanan data pribadi dan rekam medis dalam sistem pelayanan kesehatan digital.
“Transformasi bukan sekadar pengadaan alat tapi peningkatan pelayanan kesehatan. Pengembangan telemedicine ke depan sangat penting untuk pelayanan kesehatan yang inklusif,” katanya.
RSUD Banten Dukung Penuh Program Telemedicine
Sementara itu, Direktur RSUD Provinsi Banten, dr. H. Danang Hamsah Nugroho menyatakan dukungan penuh terhadap program digitalisasi layanan kesehatan melalui Mobile Klinik berbasis telemedicine tersebut.
"Operasional Mobile Klinik sehari-hari juga berada dalam koordinasi manajemen dan para dokter spesialis RSUD Banten," kata Danang kepada Fin.co.id.
Menurut Danang, program Mobile Klinik berbasis telemedicine sendiri dinilai menjadi salah satu inovasi penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat di era digital saat ini.