Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengingatkan bahwa masih ada beberapa isu krusial yang mengganjal. Iran tetap menuntut pengawasan penuh atas Selat Hormuz, penghentian total blokade pelabuhan, dan penghapusan sanksi ekonomi.
Bagi Iran, prioritas utama mereka saat ini adalah menghilangkan ancaman serangan baru dari AS serta menyelesaikan konflik yang masih membara di Lebanon selatan, tempat milisi Hizbullah bertempur melawan pasukan Israel.
Sebelum bertolak dari Teheran pada hari Sabtu, Jenderal Asim Munir sempat berdiskusi dengan negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Qalibaf mengirim pesan peringatan keras bahwa militer Iran telah berhasil membangun kembali kekuatan mereka selama masa gencatan senjata ini.
Jika Amerika Serikat secara ceroboh kembali menyulut api peperangan, Iran memastikan konsekuensi yang akan diterima pihak lawan bakal jauh lebih keras dan menyakitkan dibanding awal konflik. Apalagi, meski digempur selama berminggu-minggu, Iran terbukti masih mempertahankan persediaan uranium, kemampuan rudal, armada drone, serta jaringan proksi mereka yang solid.