Internasional . 04/06/2026, 19:34 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Krisis penyusutan populasi yang melanda Negeri Sakura kini bukan lagi sekadar persoalan demografi biasa. Fenomena penurunan jumlah penduduk Jepang yang terus berlangsung secara masif ini mulai memengaruhi ketersediaan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan sistem kesejahteraan, hingga daya saing negara tersebut di tingkat global. Jika terus berbiarkan, situasi ini dapat mengancam posisi Jepang sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia.
Pakar Genetika Ekologi dari IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa Jepang saat ini sedang menghadapi kombinasi tantangan yang sangat serius. Krisis ini mencakup tingkat kelahiran yang sangat rendah, lonjakan populasi lansia yang terus meningkat, serta pergeseran nilai sosial-ekonomi yang membuat generasi muda enggan membangun keluarga.
“Banyak generasi muda menunda pernikahan karena faktor ekonomi dan perubahan nilai sosial. Biaya hidup yang tinggi di kota seperti Tokyo dan budaya kerja yang ketat dengan jam kerja panjang menyulitkan mereka menjaga keseimbangan antara karier dan keluarga,” jelas Prof Ronny dikutip dari situs IPB, Rabu, 3 Juni 2026.
Kondisi sosiologis di Jepang saat ini menunjukkan ketidakseimbangan struktural yang sangat tajam antara jumlah generasi penerus dan penduduk usia senja.
Berikut adalah data angka demografi yang menggambarkan kondisi kritis di Jepang saat ini:
Kondisi yang mengkhawatirkan tersebut sebenarnya telah lama menjadi pusat perhatian utama pemerintah Jepang. Guna menyelamatkan masa depan domestik, otoritas Tokyo telah menerapkan berbagai kebijakan strategis, yang mencakup data program berikut:
Namun, Prof Ronny menilai berbagai upaya masif dari pihak regulator tersebut belum mampu membalikkan tren penurunan populasi yang terjadi.
“Faktor budaya menghambat keberhasilan program pemerintah karena norma sosial memaksa perempuan memilih antara karier dan keluarga. Kestabilan ekonomi belum tercapai karena banyak generasi muda kesulitan memenuhi biaya hidup dan merawat anak,” ujarnya menganalisis akar masalah.
Dampak nyata dari penyusutan warga ini mulai terasa secara langsung dalam jangka pendek melalui berkurangnya jumlah tenaga kerja aktif di berbagai perusahaan. Beban fiskal negara pun otomatis membengkak akibat bertambahnya jumlah lansia yang membutuhkan jaminan sosial.
Dalam jangka panjang, jika angka kelahiran tidak kunjung membaik, kondisi ini berpotensi memicu sejumlah konsekuensi fatal, seperti:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media