fin.co.id - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah mulai dirasakan pelaku usaha kecil, termasuk warung tegal (warteg). Kondisi tersebut membuat pola konsumsi pelanggan berubah dan cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Pemilik Warteg Jaya Bahari di kawasan Kota Tangerang, Tirtha Sidik, mengatakan pelanggan kini lebih banyak memilih paket makanan dengan harga terjangkau dibandingkan menu yang lebih lengkap.
"Dampak sekarang yang dirasakan sih orang-orang mulai hemat pilih menu. Kaya yang beli paket makanan Rp10 ribu atau Rp12 ribu makin banyak," ujarnya kepada Disway Group, Rabu, 10 Juni 2026.
Menurut Tirtha, paket hemat yang paling diminati umumnya terdiri atas nasi dan lauk sederhana. Untuk paket Rp10 ribu, pelanggan bisa mendapatkan nasi dan telur. Sementara paket Rp12 ribu biasanya berisi kombinasi nasi, usus ayam, tempe orek, dan gorengan.
"Pokoknya nasi dihitung Rp5 ribu. Telur Rp5 ribu. Kalau paket yang Rp12 ribu itu bisa pakai usus. Misal: Nasi setengah (Rp4 ribu) + usus (Rp4 ribu) + tempe orek (Rp3 ribu) + gorengan (seribu)," urainya.
Ia menilai perubahan perilaku konsumen sebenarnya sudah mulai terlihat sejak masa pandemi Covid-19. Saat itu, banyak pelanggan mulai mempertimbangkan harga sebelum menentukan pilihan makanan.
"Pokoknya era-era covid itu gaya pembeli berubah. Mereka pada tanya harga dulu. Kalau dulu kan makan mah makan aja, gak mikirin soal harga," katanya.
"Yang penting perut kenyang dan pilih menu sesuai apa yang di mau. Sementara sekarang, kenyang gak penting-penting amat. Yang penting murah," sambung Tirtha.
Selain menghadapi perubahan pola belanja pelanggan, pelaku usaha warteg juga harus berhadapan dengan kenaikan harga sejumlah kebutuhan operasional. Menurut Tirtha, harga sayuran di pasar masih fluktuatif, tetapi kenaikan paling terasa justru terjadi pada barang-barang pelengkap usaha.
Ia mencontohkan harga kertas nasi yang kini mengalami lonjakan cukup signifikan dibandingkan beberapa waktu lalu.
"Kertas nasi tuh mahal banget. Tadinya cuma Rp20 ribuan, sekarang bisa Rp30-32 ribu. Satu bundling itu isinya 250 lembar," ungkapnya.
Tak hanya itu, harga berbagai jenis plastik kemasan juga ikut merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir.
"Nah, plastik-plastik juga pada naik tuh. Kayanya gara-gara BBM dan rupiah melemah. Plastik kresek nih ya, dulu Rp 2-4 ribu. Sekarang per bungkusnya naik jadi Rp8 ribu. Kan Warteg gamungkin beli plastik cuma sebungkus," tambah Tirtha.
Meski biaya operasional meningkat, ia memilih untuk tidak menaikkan harga jual makanan maupun mengurangi porsi yang diberikan kepada pelanggan. Langkah tersebut diambil agar pelanggan tetap datang ke warungnya.
"Siasat agar ramai harga tidak di naikan porsi juga tidak di ubah," ungkapnya.