fin.co.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI saat ini tengah gencar meningkatkan keselamatan perjalanan dengan menutup 119 perlintasan sebidang prioritas di berbagai daerah. Langkah tegas ini meluncur bersamaan dengan penanganan terhadap 490 perlintasan liar yang selama ini rawan memicu kecelakaan.
"Hingga 4 Juni 2026, KAI bersama berbagai pemangku kepentingan telah menutup 119 dari 172 perlintasan sebidang prioritas yang menjadi target penanganan nasional tahun ini," ujar Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin dalam pernyataan resminya di Jakarta, Jumat, 12 Juni 2026.
Bobby menegaskan bahwa upaya meningkatkan standar keselamatan di titik-titik krusial tersebut kini menjadi salah satu fokus utama korporasi. Selain menutup jalur berbahaya, manajemen juga mempercepat pembenahan pada 490 jalur ilegal serta mulai memperkuat fasilitas pengamanan di 1.148 lokasi aktif yang tersebar di seluruh wilayah operasi.
Angka Kecelakaan Masih Tinggi Akibat Pengendara Menerobos
Langkah masif dari KAI ini sebetulnya berawal dari kebutuhan mendesak untuk menekan angka kecelakaan di jalur rel dan jalan raya. Bobby membeberkan fakta bahwa perlintasan sebidang merupakan ruang pertemuan yang sangat berisiko dalam hitungan detik antara kereta api dan pengguna jalan. Ketika kedisiplinan lalin melemah, bahaya bisa mengancam nyawa dalam waktu singkat.
Data internal KAI mencatat riwayat kecelakaan yang cukup memprihatinkan sepanjang tahun ini:
- Total Kejadian: Sejak Januari hingga 4 Juni 2026, telah terjadi 119 kecelakaan di area perlintasan sebidang.
- Jumlah Korban: Insiden tersebut menelan 97 korban jiwa. Rinciannya meliputi 43 orang meninggal dunia, 23 korban luka berat, dan 31 orang mengalami luka ringan.
- Penyebab Utama: Sebanyak 52 persen musibah berlangsung di area tanpa palang pintu. Sementara itu, perilaku buruk pengendara yang nekat menerobos saat kereta akan lewat mendominasi penyebab kecelakaan hingga mencapai porsi 87 persen.
Melihat urgensi tersebut, KAI bahkan telah melaporkan seluruh program penguatan fasilitas keselamatan angkutan rel ini secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan.
Kolaborasi KAI untuk Rampungkan Target Tahun 2026
Di sisi lain, Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menambahkan bahwa program pembersihan jalur rawan ini berjalan memakai kajian keselamatan yang sangat komprehensif. Tim mengevaluasi setiap titik berdasarkan volume perjalanan kereta, tingkat risiko, kondisi lingkungan sekitar, serta dampaknya bagi masyarakat.
“Setiap perlintasan yang ditutup telah melalui proses evaluasi dan pertimbangan keselamatan. Fokus utama kami adalah mengurangi titik-titik risiko yang berpotensi menimbulkan kecelakaan," kata Anne.
Penutupan 119 titik prioritas hingga awal Juni ini setara dengan pencapaian 69 persen dari target nasional. Anne melihat kesuksesan angka tersebut sebagai bukti nyata kuatnya kolaborasi antara KAI, pemerintah pusat, dinas perhubungan, pemda, aparat kewilayahan, hingga komunitas pecinta kereta api.
Komitmen Jangka Panjang dan Edukasi Masyarakat
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, strategi penutupan ini menyasar total 1.810 perlintasan tidak terjaga yang ada di bawah naungan KAI. Perusahaan sadar betul bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik unik, sehingga penanganannya membutuhkan dukungan infrastruktur dan penegakan hukum yang kuat.
Jika kita melihat data historis pada periode 2022 hingga 2025, angka fatalitas di jalur rel memang sangat tinggi. Tercatat ada 1.244 kecelakaan perlintasan sebidang yang mengakibatkan 1.152 korban jiwa (437 meninggal dunia, 294 luka berat, dan 421 luka ringan). Mirisnya, 73 persen dari total kejadian tersebut terjadi di perlintasan tidak terjaga.