-
Gudang amunisi.
-
Depot bahan bakar.
-
Konvoi logistik.
-
Jembatan penghubung.
-
Infrastruktur distribusi militer.
Strategi tersebut bertujuan menghambat kemampuan Rusia memasok kebutuhan pasukan di garis depan sehingga operasi ofensif menjadi lebih sulit dilakukan.
Pada 25 Juni 2026, Zelenskyy mengumumkan dimulainya kampanye serangan jarak menengah dan jauh selama 40 hari.
Operasi tersebut menyasar berbagai target strategis yang berada di wilayah Rusia maupun daerah pendudukan.
ISW mencatat jumlah serangan terhadap fasilitas logistik Rusia meningkat cukup tajam.
Sepanjang Mei 2026 tercatat sekitar 210 serangan, sedangkan selama Juni jumlahnya meningkat menjadi 303 serangan.
Peningkatan tersebut menunjukkan perubahan strategi Ukraina yang kini lebih agresif dalam menyerang infrastruktur pendukung operasi militer Rusia.
Militer Ukraina juga mengklaim berhasil melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi di Crimea.
Dalam operasi yang berlangsung pada 1–2 Juli, Ukraina menyebut telah menghancurkan 12 gardu listrik di wilayah tersebut.
Menurut Kyiv, langkah tersebut dilakukan untuk melemahkan kemampuan logistik dan operasional militer Rusia di Semenanjung Crimea.
Namun hingga kini belum ada konfirmasi independen yang dapat memverifikasi klaim tersebut.
Komandan Pasukan Sistem Tak Berawak Ukraina, Robert "Magyar" Brovdi, mengungkapkan bahwa unit drone negaranya beroperasi dengan intensitas yang sangat tinggi sepanjang Juni.
Ia mengklaim serangan drone terhadap target Rusia terjadi rata-rata setiap 52 detik.
Menurut Brovdi, lebih dari 50.000 target militer Rusia berhasil dihancurkan maupun dirusak selama satu bulan.
Pernyataan tersebut juga belum dapat diverifikasi secara independen.