Internasional . 04/08/2026, 18:43 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah laporan yang menyebut dirinya telah mengajukan pengunduran diri di tengah eskalasi konflik militer yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat (AS). Pernyataan tersebut ia sampaikan pada Selasa, 4 Agustus 2026, melalui pidato yang disiarkan televisi dan sebagian isinya diterbitkan oleh kantor berita resmi IRNA.
Pezeshkian menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki rencana untuk meninggalkan jabatannya dan akan terus menjalankan kepemimpinan di tengah situasi yang dihadapi negaranya.
“Jika saya akan mengundurkan diri, saya akan mengumumkannya secara terbuka. Saya tidak akan mengundurkan diri, dan saya akan melanjutkan perjuangan,” kata Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi, yang sebagian isinya diterbitkan oleh kantor berita resmi IRNA.
Selain membantah isu pengunduran diri, Pezeshkian juga menepis klaim yang menyebut dirinya berselisih dengan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei maupun angkatan bersenjata Iran.
Menurutnya, seluruh unsur pemerintahan dan militer tetap bekerja secara selaras dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul. “Kami bekerja dalam harmoni penuh,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa loyalitas angkatan bersenjata terhadap Pemimpin Tertinggi tidak perlu dipertanyakan. “Semua orang tahu bahwa jika ada perselisihan yang muncul, angkatan bersenjata akan berdiri bersama Khamenei,” katanya.
Sebelumnya, sejumlah media oposisi Iran mengklaim bahwa Pezeshkian telah beberapa kali mengajukan pengunduran dirinya kepada Khamenei. Namun, pernyataan terbaru Presiden Iran tersebut secara langsung membantah kabar yang beredar.
Dengan penjelasan itu, Pezeshkian menegaskan bahwa dirinya tetap menjalankan tugas sebagai kepala negara dan tidak ada konflik internal sebagaimana yang diberitakan.
Iran terlibat konflik dengan Amerika Serikat sejak Februari, ketika Washington bersama Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran. Sebagai balasan, Iran mengerahkan serangan drone dan rudal ke negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Perkembangan situasi sempat mengarah pada upaya penyelesaian damai. Pada April, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata. Kedua negara kemudian menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni dengan tujuan mengakhiri konflik militer dan mewujudkan kesepakatan perdamaian jangka panjang.
Meski sempat mencapai kesepakatan, upaya perdamaian tersebut akhirnya gagal. Kesepakatan runtuh bulan lalu setelah kedua pihak kembali saling melancarkan serangan selama hampir dua pekan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media