Internasional . 09/08/2026, 16:46 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Hamas mengaku tetap siap melanjutkan rencana perdamaian Gaza yang mendapat dukungan Amerika Serikat (AS). Pada Sabtu, 8 Agustus 2026, kelompok tersebut juga mendesak pemerintah AS memberikan tekanan kepada Israel agar mematuhi kesepakatan dan membuka jalan menuju tahap kedua.
Hamas menyampaikan sikap tersebut kepada Dewan Perdamaian Presiden AS Donald Trump. Dalam tahap terbaru rencana itu, Hamas akan menyerahkan senjata kepada komite pemerintahan Palestina yang baru dibentuk di wilayah Gaza yang hancur akibat perang.
Seorang pejabat Hamas mengatakan kelompoknya bersama faksi-faksi lain telah menyampaikan kesiapan kepada para mediator untuk segera menjalankan kesepakatan. Namun, pelaksanaan tahap kedua tetap bergantung pada persetujuan Israel dan langkah nyata dari pihak Israel.
"Hamas dan faksi-faksi lain telah mengonfirmasi kepada para mediator mengenai kesiapan mereka untuk mulai melaksanakan kesepakatan dan beralih ke tahap kedua, dengan syarat adanya persetujuan dari Israel dan dimulainya pelaksanaan kesepakatan oleh pihak Israel," ujar seorang pejabat Hamas kepada AFP.
Pejabat Hamas tersebut juga meminta pemerintah AS menggunakan pengaruhnya untuk mendorong Israel mematuhi kesepakatan. Menurutnya, tekanan tersebut penting agar proses perdamaian dapat bergerak menuju tahap berikutnya.
"Hamas mendesak pemerintah AS untuk memberikan tekanan kepada Israel agar mematuhi kesepakatan tersebut dan beralih ke tahap kedua," kata pejabat itu tanpa menyebutkan namanya.
Pekan lalu, Trump memuji kesediaan Hamas untuk melucuti senjata sebagai sebuah terobosan dalam rencana perdamaian tersebut. Dalam skema itu, Dewan Perdamaian menyatakan Israel akan melakukan penarikan pasukan secara bertahap dari sebagian besar wilayah Gaza secara bersamaan.
Namun, rencana tersebut menghadapi penolakan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pada Selasa, Netanyahu mengatakan Israel tidak menyetujui "draf" yang diajukan oleh Dewan Perdamaian.
Sikap Netanyahu muncul ketika ia menghadapi pertarungan pemilihan ulang yang sengit pada Oktober. Selain itu, basis pendukung sayap kanannya juga menunjukkan penentangan luas terhadap kesepakatan Gaza tersebut.
Sehari sebelumnya, Netanyahu bertemu dengan perwakilan tinggi Dewan Perdamaian untuk urusan Gaza, Nickolay Mladenov. Setelah pertemuan itu, Mladenov mengubah pernyataannya dan mengatakan Israel hanya akan menarik pasukan setelah Hamas melakukan pelucutan senjata secara penuh.
Perubahan sikap tersebut memperlihatkan perbedaan pandangan antara Hamas dan Israel mengenai tahapan pelaksanaan rencana perdamaian Gaza. Hamas menyatakan siap bergerak ke tahap kedua, sedangkan Israel menempatkan pelucutan senjata Hamas sebagai syarat sebelum penarikan pasukan.
Militer Israel juga bersumpah untuk terus menyerang Hamas. Kelompok tersebut melancarkan serangan paling mematikan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media