Internasional . 10/08/2026, 19:54 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Garda Revolusi Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan Teheran. Pernyataan itu disampaikan pada Minggu, 9 Agustus 2026, ketika blokade efektif Iran terhadap jalur vital pasokan energi tersebut terus memicu kekhawatiran sekutu, mengguncang pasar, dan mendorong kenaikan harga.
Iran memasukkan sejumlah tuntutan sebagai syarat pembukaan kembali selat, termasuk pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat perang. Teheran juga ingin mempertahankan kendali atas Selat Hormuz setelah perang serta mengenakan biaya bagi kapal yang melintas di jalur tersebut.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran memaparkan sejumlah persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kantor berita Tasnim melaporkan, syarat tersebut mencakup penghentian perang di semua lini, pencabutan blokade balasan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, penghapusan sanksi, serta pencairan aset Iran yang dibekukan.
Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang. Syarat tersebut mencerminkan ketentuan dalam kesepakatan bulan Juni, termasuk klausul pembentukan dana rekonstruksi senilai US$300 miliar untuk Iran.
Garda Revolusi Iran kemudian menegaskan bahwa mereka akan mempertahankan blokade sampai Amerika Serikat menerima seluruh tuntutan Teheran. Iran bahkan menyebut Selat Hormuz kini bukan sekadar jalur perairan, melainkan bagian dari medan konflik.
"Strategi kami adalah mempertahankan blokade. Sampai musuh menerima semua syarat kami, selat ini sekarang sebenarnya merupakan medan perang bagi kami, bukan sekadar jalur perairan," sebut pernyataan tersebut.
Teheran sebelumnya juga berulang kali menyerang kapal-kapal yang mereka tuduh berusaha menghindari rute pilihan Iran. Kondisi tersebut membuat lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz turun drastis di tengah serangan yang terus berlangsung.
Ketegangan di Selat Hormuz juga menjadi persoalan politik bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penutupan jalur tersebut telah mendorong kenaikan harga bagi para pemilih AS dan menciptakan persoalan politik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu pada November.
Meski demikian, Trump mengatakan dirinya memilih pendekatan yang "tidak agresif" terhadap Teheran. Dalam percakapan dengan Axios pada Minggu, ia mengisyaratkan keyakinannya bahwa tekanan ekonomi dapat membuat Iran menyerah.
"Kami mengambil pendekatan yang tidak agresif," ujar Trump mengenai strateginya dalam sebuah wawancara.
Trump juga mengatakan bahwa Washington masih melakukan negosiasi dengan Teheran melalui pendekatan yang terbatas. Ia menyebut kondisi ekonomi Iran sebagai salah satu faktor yang membuat dirinya tetap optimistis.
"Kami hanya melakukan negosiasi setengah-setengah dengan mereka," ujarnya seperti dikutip. "Kami hanya mengamati Iran dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang."
Trump kemudian menyatakan keyakinannya bahwa persoalan tersebut akan berakhir. "Semuanya akan beres," tambahnya. "Ini seperti permainan catur."
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media