Netanyahu Tolak Rencana AS di Gaza, Perbedaan Sikap dengan Trump Mulai Terlihat
Netanyahu menolak rencana Gaza yang didukung Hamas dan AS, memicu perbedaan sikap dengan Trump di tengah persiapan pemilu Israel.
fin.co.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak rencana Gaza yang dipimpin Amerika Serikat dan mendapat dukungan dari Hamas. Keputusan tersebut menunjukkan munculnya perbedaan sikap antara Netanyahu dan Presiden Donald Trump.
Selama lebih dari sepekan, Netanyahu terus melontarkan kritik terhadap rencana tersebut. Meskipun ia telah menerima jaminan bahwa Israel tidak harus segera menarik pasukannya dari Gaza, Netanyahu akhirnya menolak kesepakatan itu setelah mendapat tekanan dari para sekutu sayap kanannya.
"Israel menolak dokumen 15 poin tersebut," ujar Netanyahu, Minggu, 9 Agustus 2026.
Netanyahu Tegaskan Israel Tak Akan Tarik Pasukan
Netanyahu juga menegaskan bahwa militer Israel tidak akan meninggalkan Gaza sebelum Hamas benar-benar melucuti persenjataannya. Ia menyampaikan sikap tersebut dalam rapat kabinet ketika pemerintah Israel membahas rencana Gaza yang mendapat dukungan dari pihak Amerika Serikat dan Hamas.
Baca Juga
Militer Israel "tidak akan melakukan penarikan pasukan apa pun sampai Hamas benar-benar dilucuti senjatanya, dan akan terus menggagalkan ancaman terhadap pasukan serta warga kami," tegasnya dalam rapat kabinet.
Meskipun menolak rencana tersebut, Netanyahu tetap menyebut Trump sebagai sekutu penting bagi Israel. Ia bahkan menyebut Presiden Amerika Serikat itu sebagai "sahabat terbaik kami di Gedung Putih", tetapi pada saat yang sama menegaskan bahwa Israel siap memiliki pandangan berbeda dengan Washington.
Netanyahu mengatakan Israel telah menyampaikan keberatannya kepada pihak Amerika Serikat. Menurutnya, terdapat sejumlah gagasan dari pihak Amerika yang bisa diterima Israel, tetapi ada pula bagian yang tidak dapat disetujui.
"Mereka memiliki gagasan-gagasan; sebagian dapat kami terima dan sebagian tidak, dan kami tahu bagaimana mempertahankan pendirian kami dalam hal-hal ini," ujarnya.
Tekanan Politik Menguat Jelang Pemilu Israel
Baca Juga
Netanyahu merupakan pemimpin dengan masa jabatan terlama di Israel. Namun, sejumlah jajak pendapat menunjukkan hasil yang seimbang atau bahkan posisi tertinggal bagi dirinya menjelang pemilihan umum pada 27 Oktober.
Pemilu tersebut menjadi pemilihan pertama bagi Israel sejak serangan besar Hamas pada 7 Oktober 2023 yang kemudian memicu perang Gaza. Karena itu, isu mengenai rencana Gaza turut menjadi bagian penting dalam dinamika politik Netanyahu dan basis pendukungnya.
Jajak pendapat menunjukkan rencana Gaza tersebut tidak mendapat dukungan dari basis pendukung sayap kanan Netanyahu. Selain itu, sejumlah anggota kabinet dari kelompok sayap kanan ekstrem juga telah mendesaknya untuk membatalkan rencana tersebut.
Tekanan dari kelompok sayap kanan itu muncul ketika Netanyahu harus menghadapi tantangan politik menjelang pemilu. Di sisi lain, perbedaan sikap mengenai rencana Gaza juga memperlihatkan posisi Netanyahu yang tidak sepenuhnya sejalan dengan gagasan yang sebelumnya mendapat dukungan Trump.