Nasional . 15/08/2026, 20:53 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Besarnya anggaran MBG tentu membawa konsekuensi tersendiri. Dengan dana sekitar Rp240 triliun dan target 60,6 juta penerima manfaat, pemerintah menghadapi tantangan besar dalam memastikan program berjalan efektif.
Bukan hanya soal menyediakan makanan. Program tersebut membutuhkan sistem distribusi yang kuat, pengawasan kualitas makanan, pengadaan bahan baku, serta pengelolaan anggaran yang transparan.
Semakin besar jumlah penerima manfaat, semakin kompleks pula rantai distribusinya.
Karena itu, penggunaan anggaran MBG diperkirakan akan menjadi salah satu perhatian utama dalam pelaksanaan RAPBN 2027.
Program makan bergizi juga memiliki tujuan yang lebih luas. Pemerintah tidak sekadar ingin memberikan makanan gratis, tetapi juga berharap pemenuhan gizi dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan dan kemampuan belajar anak-anak.
Jika pelaksanaannya tepat sasaran, program tersebut berpotensi menjadi investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Namun sebaliknya, besarnya anggaran juga membuat pengawasan menjadi sangat penting. Setiap rupiah yang dialokasikan harus benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat.
Secara keseluruhan, pemerintah menyiapkan anggaran pendidikan sebesar Rp820,9 triliun dalam RAPBN 2027.
Anggaran tersebut mencakup berbagai program yang menyentuh siswa, mahasiswa, guru, sekolah, hingga lembaga kebudayaan.
MBG menjadi salah satu program dengan porsi terbesar. Sementara program lainnya tetap diarahkan untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dari sisi penerima manfaat, jumlahnya juga sangat besar. Puluhan juta siswa dan guru akan mendapatkan dukungan melalui berbagai skema yang disiapkan pemerintah.
Dengan demikian, RAPBN 2027 tidak hanya berbicara tentang berapa besar anggaran yang dikeluarkan, tetapi juga bagaimana anggaran tersebut mampu menghasilkan perubahan nyata. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media