Internasional . 18/08/2026, 17:14 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya telah “memenangkan perang sekaligus diplomasi.” Pernyataan tegas ini muncul usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Teheran untuk segera menyerah dan mengibarkan bendera putih di tengah ketegangan konflik yang terus berlanjut.
Berbicara dalam sebuah acara, Araghchi mengungkapkan bahwa Iran berhasil bertahan selama berhari-hari melawan apa yang ia gambarkan sebagai “kekuatan militer terbesar di dunia.”
Menurutnya, kekuatan tersebut juga datang bersama pasukan lain yang mengklaim kekuatan militer serupa, serta mengantongi dukungan dari hampir seluruh negara Barat dan sejumlah negara lain di dalam maupun luar kawasan, sebagaimana warta kantor berita Tasnim.
Araghchi menyoroti perubahan sikap pihak lawan yang semula bertindak sangat menekan Iran pada awal perselisihan.
“Mereka yang awalnya menuntut penyerahan tanpa syarat, tak lama setelah perang dimulai, justru memohon untuk bernegosiasi,” ujar Araghchi, dikutip Selasa, 18 Agustus 2026.
Ia mengklaim Teheran pada mulanya menolak opsi gencatan senjata. Pihaknya terus bertempur hingga mencapai titik di mana lawan akhirnya menerima gencatan senjata serta mau berunding “berdasarkan syarat-syarat Iran.”
“Kami bertempur dengan kekuatan, dan kami bernegosiasi dengan kekuatan,” katanya, seraya menambahkan bahwa banyak menteri luar negeri mengatakan kepadanya: “Anda memenangkan perang sekaligus diplomasi.”
Pernyataan menantang dari Araghchi ini mengudara tepat setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Senin menyerukan agar Iran menyerah dan “mengibarkan bendera putih.”
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menegaskan pada hari Senin, 17 Agustus 2026, bahwa ia tidak berupaya memperpanjang kesepakatan kerangka kerja bulan Juni dengan Iran yang bertujuan mengakhiri perang. Trump bahkan secara sepihak mengklaim pihak AS telah memegang “kendali penuh” atas wilayah strategis Selat Hormuz.
"Tidak," jawab Trump saat ditanya oleh wartawan apakah ia berupaya memperpanjang kesepakatan dengan Iran yang dicapai pada bulan Juni melalui mediasi Pakistan.
Pernyataan dari pimpinan Gedung Putih itu mengemuka sewaktu masa negosiasi 60 hari hampir berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan komprehensif, padahal kesepakatan kerangka kerja tersebut sebenarnya bertujuan memfasilitasi hal itu.
Tenggat waktu ini berasal langsung dari ketentuan dalam kesepakatan bulan Juni yang menetapkan jangka waktu perundingan menuju penyelesaian konflik yang lebih luas.
Ketika wartawan bertanya apakah kedua pihak semakin dekat untuk mencapai kesepakatan akhir berdasarkan kerangka kerja tersebut, Trump menyebut Iran sebenarnya berminat berunding namun belum bersedia menerima syarat-syarat yang ia nilai wajib.
"Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi mereka tidak akan membuat jenis kesepakatan yang menurut saya diperlukan," kata Trump.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media