Nasional . 20/08/2026, 22:30 WIB

Dari Balik Lapas ke Mesin Jahit: Eks Napi Garut Bangkit Rintis Konveksi

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Kebebasan bersyarat menjadi awal baru bagi Fajar. Setelah menjalani masa pidana di Lapas Kelas II Garut, Jawa Barat, ia kini berusaha membangun kehidupan mandiri dengan mengandalkan keterampilan menjahit yang diperolehnya selama berada di balik jeruji.

Hanya bermodalkan satu mesin jahit bekas seharga Rp1,5 juta yang dibelikan mertuanya, Fajar mulai menerima pesanan dari rumah. Mesin tersebut menjadi modal pertamanya untuk merintis usaha konveksi kecil-kecilan.

Pada siang hari, Fajar bekerja di sebuah usaha konveksi milik orang lain. Setelah pulang, ia melanjutkan pekerjaan jahit dan permak di rumah hingga sekitar pukul 22.00 WIB.

“Untuk sekarang saya sehari-hari kerja dikonveksi, jadi orderan jahit, permak kalau di rumah itu saya kerjakan sesudah saya selesai kerja yang untuk konveksi, misalnya setelah maghrib sampai jam 22.00 WIB,” kata Fajar.

Pesanan pertamanya datang dari seorang kerabat yang meminta dibuatkan satu setel pakaian almamater lengkap dengan rompi dan celana. Karena masih dalam tahap membangun kepercayaan pelanggan, Fajar hanya memasang tarif Rp150 ribu.

"Namanya kasih harga ke saudara, ya bingung juga karena saya sedang merintis. Saya enggak matok harga, yang penting orang-orang tahu bagaimana kualitas jahitan saya," ujarnya.

Dari satu pesanan, perlahan pelanggan mulai berdatangan. Sebagian meminta pakaian dipotong, sementara lainnya membutuhkan jasa permak. Meski tarifnya berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per potong, Fajar melihat setiap order sebagai peluang untuk memperluas jaringan pelanggan.

Hasilnya mulai terasa. Dari pekerjaan di konveksi sekaligus pesanan yang dikerjakan di rumah, Fajar mengaku mampu mendapatkan pendapatan hampir Rp4 juta pada bulan pertama setelah bebas. Pada bulan berikutnya, ia bahkan sempat memperoleh lebih dari Rp1 juta dalam sepekan.

“Kalau pendapatan saya kerja di konveksi sama terima orderan jahit dan permak di rumah mungkin hampir Rp 4 juta dapatlah sebulan pertama kemarin. Bulan kedua ini ada yang seminggu dapat sejuta lebih, minggu berikutnya Rp 900 ribu,” ucap Fajar.

Namun, penghasilan tersebut belum langsung digunakan untuk memenuhi berbagai keperluan. Ia memilih mengumpulkan keuntungan untuk membeli perlengkapan produksi dan memperkuat usahanya.

"Rencana jangka pendek narik pelanggan dulu, branding kualitas jahitan saya dulu. Ini saya masih kumpulin keuntungan buat modal, beli penggaris pola, benang-benang," tuturnya.

Sempat Dihantui Ketakutan Saat Masuk Lapas

Perjalanan Fajar membangun usaha tidak terlepas dari pengalaman panjang selama menjalani pidana. Ia masuk Lapas Garut pada Oktober 2021 setelah sebelumnya ditahan di Rutan Garut.

Fajar mengaku sempat mengalami tekanan mental ketika pertama kali masuk lapas. Gambaran mengenai kehidupan penjara yang ia dapat dari televisi, film, maupun cerita orang lain membuatnya membayangkan berbagai hal buruk.

“Jujur sih kalau dari bayangan pertama kali masuk lapas kayak suram lah gitu. Kayak lihat yang di TV-TV kayak gitu kan, yang di film-film, bayangannya kekerasan lah, di-bully sesama warga binaan gitu kan. Awalnya saat mapenaling (masa pengenalan lingkungan) dua minggu itu saya tidur paling cuman hitungan sejam, kebangun, tidur sejam lagi, kebangun lagi, penuh was-was. Karena kan sebelumnya juga ada eks residivis yang nakut-nakutin lah, misalkan di lapas gini-gini-gini,” terang Fajar.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com