Nasional . 20/08/2026, 22:30 WIB

Dari Balik Lapas ke Mesin Jahit: Eks Napi Garut Bangkit Rintis Konveksi

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

“Teman-teman napi yang saya pimpin di bimker konveksi ada 8 orang. Kalau dulu di rumah jahit kakak ada anak buah ada 3 sampai 4 orang. Jadi di sini selain kemampuan konveksi terasah, kemampuan leadership, koordinasi juga diasah,” katanya.

Salah satu tantangan terbesar datang ketika timnya harus menyelesaikan pesanan sebanyak 1.500 tas serut dalam waktu tiga pekan. Fajar harus membagi tugas sesuai kemampuan setiap anggota tim sekaligus memastikan kualitas produksi tetap terjaga.

“Mungkin kalau untuk tantangan ya karena dipercaya juga untuk ngejar target, pertama. Ditambah harus menjaga kualitas juga. Sambil saya ngasih contoh juga kan kepada teman-teman. Saya harus tahu nih tiap teman-teman saya skillnya udah sampai mana. Jadi bagian pola ke siapa, bagian jahit ke siapa. Bagian ukur ke siapa bagian ini ke siapa,” terangnya.

Untuk memenuhi tenggat waktu, Fajar mengusulkan agar tim diperbolehkan lembur dan tinggal sementara di bengkel. Permintaan tersebut mendapat izin dari pihak lapas.

“Alhamdulillah atas kerja sama dengan teman-teman sama Pak Asep, lalu saya izin ke Kalapas juga kan minta supaya bisa tidur di bengkel konveksi, alhamdulillah beres (pesanan). Jadi harus taktis, teman-teman juga sarankan minta lembur agar mencapai target, ya saya bawa aspirasi teman-teman ke Pak Kalapas. Jadi kami nggak pulang ke blok selama ngejarin pesanan itu. Waktu makan juga makanan dianter ke konveksi,” cerita Fajar.

Dalam mengelola tim, Fajar juga belajar bahwa produktivitas tidak selalu berarti bekerja tanpa jeda. Ketika ada anggota tim yang mulai jenuh, ia memberikan waktu istirahat atau mengajak mereka mencoba tahapan produksi lainnya.

"Kalau ada di tim yang bosan, stres, paling strategi saya suruh istirahat dulu. Atau ganti proses, misalnya dari menjahit jadi membuat pola supaya tidak jenuh. Kalau ganti proses kan ada tantangan baru," tuturnya.

Bebas Malah Sempat Bingung

Setelah mendapatkan pembebasan bersyarat, Fajar menghadapi tantangan baru. Kembali ke tengah masyarakat ternyata tidak langsung membuat semuanya mudah.

Ia sempat bingung menentukan langkah yang harus dilakukan setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan di dalam lapas.

"Menghirup udara bebas, jujur rasanya masih bingung karena harus adaptasi lagi dengan dunia luar. Saya selama seminggu mungkin enggak ngapa-ngapain," katanya.

Dalam situasi tersebut, ia kembali teringat Mubarok, pelaku UMKM yang sebelumnya bekerja sama dengan Lapas Garut. Mubarok yang awalnya datang sebagai konsultan budidaya maggot kemudian mengetahui kemampuan Fajar di bidang konveksi.

Kepala Seksi Bimbingan Kerja Lapas Garut, Asep, mengatakan Fajar tidak hanya diarahkan untuk bekerja, tetapi juga diajak memikirkan peluang pengembangan usaha.

"Fajar ini enggak sekadar dipekerjakan (di bengkel konveksi Lapas Garut), tapi kita ajak diskusi proyeksi mengembangkan bisnis konveksi," kata Asep.

Mubarok sendiri memiliki rencana mengembangkan bisnis konveksi dengan produksi dan merek sendiri. Jika usaha tersebut berkembang, bisnis itu diharapkan dapat menjadi wadah pekerjaan bagi mantan warga binaan yang memiliki keterampilan serupa.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com