Nasional . 20/08/2026, 22:30 WIB

Dari Balik Lapas ke Mesin Jahit: Eks Napi Garut Bangkit Rintis Konveksi

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

Kekhawatiran itu perlahan berkurang setelah ia mengikuti berbagai kegiatan di dalam lapas. Selama sekitar dua tahun pertama, Fajar lebih banyak mengikuti kegiatan keagamaan sebagai santri.

Pengalaman yang dijalaninya ternyata berbeda dari bayangan awal.

“Tapi ternyata yang terjadi yang sudah saya alami, tidak seperti itu. Tapi setelah masuk, ini pengalaman pribadi saya, yang saya Jalani, yang saya alami itu di luar ekspektasi saya yang saya bayangkan gitu. Ternyata sangat dimanusiakan,” ceritanya.

Pada awalnya, Fajar belum tertarik mengikuti program bimbingan kerja. Ia merasa perlu memperbaiki diri terlebih dahulu.

Namun, kesempatan kemudian datang ketika bengkel konveksi Lapas Garut mendapat pesanan. Dari situlah Fajar kembali menekuni kemampuan menjahit yang sebelumnya sudah dimilikinya.

Sebelum menjalani pidana, Fajar pernah bekerja di rumah jahit milik kakaknya di Cikajang. Pengalaman tersebut menjadi bekal ketika ia mulai bergabung dengan kegiatan konveksi di lapas.

Salah satu orang yang mengetahui keterampilannya adalah Sopian, sesama mantan warga binaan yang kini bekerja sebagai tenaga honorer di bengkel konveksi Lapas Garut sekaligus mengembangkan usaha konveksi sendiri.

“Dulu akhirnya ke (bimbingan kerja) konveksi karena ada yang ngajak, karena dulu itu dapat pesanan kaos kampanye, saya diajak Mang Sopian, mantan di sini juga, yang sekarang punya konveksi di luar. Ikutlah dari situ. Lanjut terus di bimbingan kerja. Mang Sopian tahu background saya bisa jahit karena kan kita suka sharing tentang kegiatan sebelum masuk lapas, apa pekerjaannya, di mana,” jelas Fajar.

Tak Hanya Belajar Menjahit

Berada di bengkel konveksi membuat kemampuan Fajar berkembang. Ia tidak hanya mengerjakan proses jahit, tetapi juga mempelajari pembuatan pola, pengukuran hingga pemotongan bahan.

Keterampilan tersebut dikuasainya setelah terjadi pergantian orang yang sebelumnya memimpin tim produksi.

"Di sini saya enggak cuma jahit. Karena 'dipaksa' harus mengasah skill, saya 'dipaksa' harus bisa motong kainnya, bisa buat pola berbagai macam pakaian. Kan memang dari dulunya jadi turun temurun ada leader-nya juga, pas saya pertama masuk ke bimker konveksi, leader-nya itu yang WNA asal China, Pak si Chan itu. Karena dia pulang, kan saya dipaksa harus bisa membuat pola pakaian, bisa potong, bisa ngukur. " jelas dia.

Fajar menjelaskan istilah 'dipaksa' yang digunakannya bukan berarti ada tekanan atau intimidasi. Menurutnya, kata tersebut menggambarkan dorongan agar dirinya mampu menguasai lebih banyak keahlian.

Untuk menguasai pembuatan pola, ia membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Setelah kemampuannya meningkat, tanggung jawabnya pun bertambah.

Fajar dipercaya memimpin delapan warga binaan yang bekerja di bengkel konveksi. Selain kemampuan teknis, ia mendapatkan pengalaman mengenai kepemimpinan dan koordinasi tim.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com