Internasional . 23/08/2026, 21:56 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pernyataan keras mengenai kondisi negaranya pada Minggu, 23 Agustus 2026. Ia mengatakan Teheran saat ini menghadapi apa yang disebutnya sebagai "perang skala penuh" yang mencakup bidang ekonomi, militer, dan keamanan.
"Kita sedang berada dalam perang skala penuh di bidang ekonomi, militer, dan keamanan," ujar Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi dan diberitakan oleh kantor berita pemerintah IRNA.
Pezeshkian mengatakan pemerintah Iran tengah berupaya mengatasi berbagai kesulitan yang muncul dalam kondisi tersebut. Ia juga mengakui pemerintah merasa "malu" terhadap persoalan yang masih terjadi dalam perekonomian.
Pernyataan tersebut menunjukkan tekanan yang dihadapi pemerintah Iran tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan dan militer. Kondisi ekonomi juga menjadi bagian dari persoalan yang menurut Pezeshkian harus dihadapi pemerintah dan masyarakat Iran.
Dalam pidatonya, Pezeshkian turut menyinggung ancaman sanksi dari Amerika Serikat. Ia menyebut Presiden AS Donald Trump dengan mudah mengatakan bahwa Washington akan menjatuhkan sanksi paling berat atau paling dahsyat terhadap Iran.
"(Presiden AS Donald) Trump dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan menjatuhkan sanksi paling berat atau paling dahsyat terhadap Iran," kata Pezeshkian, seraya menambahkan bahwa Teheran "tetap teguh" dan berupaya melayani rakyat Iran di tengah situasi yang ia sebut sebagai "perang yang tidak seimbang."
Pezeshkian juga menyinggung perkiraan pihak yang disebutnya sebagai musuh bahwa Iran akan mengalami keruntuhan. Menurut dia, ada anggapan bahwa jika Iran runtuh, negara tersebut akan menghadapi kondisi seperti Venezuela.
"Musuh memperkirakan bahwa jika Iran runtuh, negara ini akan menjadi seperti Venezuela. Hal itu tidak hanya tidak terjadi, tetapi Iran justru menjadi kekuatan yang memukau dunia melalui ketahanan, solidaritas, dan kekompakannya," tegas sang presiden.
Pezeshkian menilai ketahanan dan solidaritas menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan yang sedang berlangsung. Karena itu, pemerintah Iran berupaya menjaga masyarakat tetap bersatu di tengah berbagai persoalan.
Teheran juga berupaya "dengan segenap kemampuan untuk menghindari perpecahan, konflik, dan ego," ujarnya.
Di tengah pernyataan Pezeshkian mengenai kondisi Iran, hubungan Teheran dan Washington juga masih menghadapi persoalan dalam proses perundingan. Iran dan AS sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar.
Kesepakatan tersebut mengakhiri ketegangan yang bermula pada bulan Februari. Kedua pihak kemudian sepakat melanjutkan perundingan untuk menuju kesepakatan akhir.
Namun, proses perundingan kini terhenti. Perselisihan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman menjadi salah satu persoalan yang menghambat kelanjutan pembicaraan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media