Nasional . 29/08/2026, 20:15 WIB

Sumatera Darurat Asap! Ribuan Titik Api Mengepung, Pemerintah Langsung Ambil Langkah Ekstrem Ini!

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Pulau Sumatera seiring terdeteksinya 1.436 titik panas (hotspot). Wilayah Sumatera Selatan mencatatkan jumlah terbanyak dengan 756 hotspot.

"Berdasarkan pembaruan data BMKG Pekanbaru pada Sabtu (29 Agustus 2026) pukul 16.00 WIB, Provinsi Riau menempati posisi kedua terbanyak di Sumatera dengan total 246 titik panas. Kemudian Lampung 142 titik, Jambi 135 titik, Sumatera Utara 35 titik, Sumatera Barat 26 titik, Bengkulu 8 titik, Aceh dan Kepulauan Riau masing-masing 5 titik," kata Prakirawan BMKG Pekanbaru Gita Dewi S, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Khusus di wilayah Riau, titik panas mendominasi beberapa area, di mana Kabupaten Indragiri Hilir menyumbang 80 titik dan Pelalawan 75 titik sebagai penyumbang terbesar yang memicu kepulan asap pekat.

"Lalu di Kabupaten Indragiri Hulu 39 titik hotspot, Bengkalis 14 titik, Siak 12 titik, Kuansing 10 titik, Kampar 7 titik, Rohil 4 titik, Dumai 3 titik, Rokan Hulu dan Kepulauan Meranti masing-masing 1 titik," jelas Gita.

Dampak kebakaran tersebut mulai memperburuk kualitas udara dan mengganggu jarak pandang di sejumlah area di Riau. BMKG mencatat jarak pandang di Rengat serta Pelalawan merosot hingga 5 kilometer akibat terselimuti asap.

"Sementara itu, wilayah Kota Pekanbaru berada pada jarak pandang 6 kilometer dan Tambang bertahan di angka 7 kilometer, mengindikasikan pekatnya emisi pembakaran lahan gambut," katanya.

Menanggapi situasi kritis ini, otoritas terkait bergerak cepat menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Agustus hingga 1 September 2026. Intervensi teknis ini memfokuskan pemicuan hujan buatan di kawasan gambut yang terbakar guna memadamkan kobaran api yang sulit dijangkau tim darat.

Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, menggarisbawahi krusialnya rekayasa cuaca tersebut usai menghadiri Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di GOR Presisi Polda Riau. Ia menyoroti adanya potensi pergerakan awan hujan yang cukup dominan di atas Riau menuju awal September. Keberadaan awan alami itu bakal dimaksimalkan melalui teknologi penyemaian.

“Kira-kira di tanggal 29, 30, 31, sampai tanggal 1. Terutama tanggal 1 ada potensi hujan besar di seluruh Riau,” kata Raja Juli.

Ia menambahkan bahwa kombinasi hujan alami dan penyemaian buatan merupakan solusi paling ampuh menundukkan api di lahan gambut. Di saat bersamaan, satuan tugas darat bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus bekerja keras melakukan pembasahan masif di lokasi-lokasi rawan.

Dukungan militer turut dikerahkan untuk menjamin kelancaran misi udara ini. Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin mengonfirmasi kesiapan operasional bandara secara penuh bagi lalu lintas pesawat penyemai garam OMC.

“Kami sudah sepakati semua, sekecil apa pun potensi awan hujan, awan semai, maka akan kami lakukan operasi modifikasi cuaca,” tegas Raja Juli.

Selain intervensi iklim, pemerintah berencana menambah armada helikopter water bombing guna memperkuat lima unit helikopter pemadam yang sudah beroperasi di Riau. Koordinasi intensif terus dijalankan bersama Kementerian Pertahanan agar pengerahan armada bantuan dapat terealisasi dengan cepat. Bahkan, satu unit helikopter pemadam yang sempat diperbantukan ke Kalimantan Selatan berpotensi ditarik kembali ke Riau.

“Nanti saya akan telepon Pak Menhan juga untuk segera mungkin dikirim untuk memperkuat lima heli yang sudah digelar di Riau,” ujar Raja Juli.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com