Nasional . 30/08/2026, 20:59 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Dua provinsi mencatat peningkatan jumlah hotspot yang cukup signifikan.
Di Kalimantan Tengah, jumlah titik panas meningkat dari 7.703 titik menjadi 8.488 titik.
Sementara itu, lonjakan yang lebih tajam terjadi di Kalimantan Barat.
Jumlah hotspot di wilayah tersebut naik dari 3.384 titik menjadi 6.526 titik.
Kenaikan tersebut membuat Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menjadi perhatian utama dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Lonjakan titik panas juga meningkatkan risiko munculnya kebakaran yang lebih luas apabila kondisi cuaca dan tingkat kekeringan mendukung penyebaran api.
Terutama pada wilayah tertentu, api dapat lebih sulit dikendalikan jika kebakaran terjadi di area gambut.
Lonjakan hotspot juga mulai memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan.
Di sejumlah titik pemantauan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, kualitas udara dilaporkan telah mencapai kategori berbahaya.
Kondisi tersebut tentu perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama kelompok yang rentan terhadap paparan asap.
Sementara itu, Kalimantan Selatan tercatat berada dalam kategori sangat tidak sehat.
Adapun kualitas udara di sejumlah wilayah lain seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan berada pada kategori tidak sehat.
Asap dari kebakaran hutan dan lahan dapat mengandung partikel yang berbahaya bagi kesehatan apabila konsentrasinya meningkat.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk memperhatikan kondisi udara dan mengikuti arahan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media