Internasional . 31/08/2026, 14:58 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Otoritas berwenang mencatat lonjakan jumlah korban jiwa akibat bencana banjir bandang dan longsoran lumpur di area perbatasan Nepal-China yang kini mencapai 919 orang, sementara petugas masih mencari 4.800 warga yang hilang, termasuk 853 warga asing.
Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanganan Bencana Nepal mengonfirmasi sebanyak 903 kematian terjadi di wilayah Nepal, serta mencatat 4.247 orang—termasuk 592 warga asing—masih belum ditemukan.
Tim pencarian dan penyelamatan terus bergerak menyisir seluruh titik bencana. Pihak berwenang juga berupaya keras menjangkau para pekerja yang terjebak di sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.
Kantor berita pemerintah Xinhua melaporkan bahwa wilayah China mencatat 16 korban tewas dan 546 orang hilang di Kabupaten Gyirong, Provinsi Otonomi Xizang (Tibet), kawasan barat daya China. Dari total warga yang hilang di area tersebut, sebanyak 261 orang merupakan warga negara asing.
Apabila menggabungkan data dari kedua negara, total korban tewas mencapai 919 jiwa dan angka orang hilang menyentuh 4.793 orang, yang mencakup 853 warga negara asing.
Pemerintah China telah mengerahkan lebih dari 2.100 personel SAR ke lokasi terdampak, lengkap dengan ratusan unit kendaraan serta ribuan perlengkapan penyelamatan.
Bencana besar ini berawal pada Rabu (26/8) saat gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, mengalami retakan pada ketinggian sekitar 5.200 meter. Retakan tersebut memicu reruntuhan es dan batu yang dengan cepat berubah menjadi aliran puing raksasa, lalu menerjang lembah-lembah di sepanjang kawasan perbatasan.
Terjangan gelombang air bandang bersama gelontoran longsoran lumpur meluluhlantakkan wilayah Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, hingga Lembah Kathmandu di Nepal, serta menimbun area perbatasan Gyirong di wilayah China.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media