Nasional . 05/09/2026, 10:46 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung tidak panik menyikapi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung.
Erupsi gunung api tersebut disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar di sejumlah wilayah. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran warga, terutama karena masih teringat dengan tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pemerintah turut memperhatikan kekhawatiran masyarakat pesisir Banten dan Lampung terkait kemungkinan terjadinya tsunami.
Menurut dia, evaluasi yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan kondisi tubuh Gunung Anak Krakatau pascatsunami 2018 masih relatif kecil.
Dengan kondisi tersebut, Gunung Anak Krakatau dinilai belum memiliki potensi mengalami keruntuhan dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.
"Oleh sebab itu, masyarakat di Banten dan Lampung diharapkan tidak panik," kata dia.
Berton menjelaskan aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat pukul 23.07 WIB hingga Sabtu 5 September pagi.
Pada malam hari, aktivitas tersebut terpantau menghasilkan lava fountain atau lava air mancur. Selain itu, tercatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo 70 mm dan durasi mencapai 21.600 detik.
Aktivitas vulkanik tersebut juga berdampak terhadap perangkat pemantauan. Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mengonfirmasi lontaran material vulkanik menyebabkan kamera atau CCTV pengamatan mengalami kerusakan hingga tidak lagi beroperasi.
Aktivitas Warga Dibatasi 3 Kilometer
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. BNPB bersama PVMBG pun meminta masyarakat, nelayan, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
BNPB menekankan tiga hal yang menjadi prioritas dalam menghadapi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pertama, memastikan zona bahaya benar-benar steril melalui patroli pemerintah daerah dan BPBD. Kedua, memastikan kesiapan jalur evakuasi serta titik kumpul, terutama di kawasan pesisir.
Ketiga, masyarakat diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau hanya untuk mengambil gambar atau merekam aktivitas erupsi.
Imbauan tersebut disampaikan demi mencegah masyarakat terpapar risiko akibat lontaran material vulkanik maupun bahaya lain yang dapat muncul selama erupsi berlangsung. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media