Viral . 08/09/2026, 09:59 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
Ulta kemudian mempertanyakan waktu terjadinya erupsi sejumlah gunung api setelah Presiden RI bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.
"Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, 6 Gunung Vulkanik Indonesia Erupsi secara bersamaan?" tulis Ulta.
Ia juga menyebut dirinya bukan satu-satunya pihak yang memiliki kecurigaan tersebut. Ulta mengklaim Jepang, China, dan Turkiye pernah memiliki kecurigaan serupa.
"Yang curiga tentang ini bukan saya sendiri pasti, Jepang, China, dan Turkiye pernah punya kecurigaan yang sama," tulisnya.
HAARP adalah singkatan dari High-frequency Active Auroral Research Program, yaitu fasilitas penelitian yang digunakan untuk mempelajari ionosfer, lapisan atmosfer atas Bumi yang berperan dalam komunikasi radio dan fenomena aurora.
HAARP berada di Alaska, Amerika Serikat. Fasilitas ini menggunakan antena pemancar radio frekuensi tinggi untuk memberikan rangsangan kecil dan terkontrol pada bagian ionosfer, kemudian para ilmuwan mengamati responsnya.
HAARP memang memiliki sejarah keterlibatan US Air Force, US Navy, dan DARPA, sehingga kemudian sering menjadi bahan teori konspirasi.
Jadi, HAARP itu nyata, tetapi klaim bahwa HAARP merupakan senjata untuk mengendalikan cuaca atau memicu gempa dan erupsi gunung api belum memiliki bukti ilmiah yang kredibel.
PVMBG Sebut Erupsi Enam Gunung Berdiri Sendiri
Fenomena enam gunung api yang erupsi pada periode berdekatan sebelumnya memang telah mendapat penjelasan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
PVMBG menyatakan erupsi enam gunung api tersebut merupakan dinamika vulkanik masing-masing dan tidak saling memicu. Enam gunung yang dimaksud adalah Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung.
PVMBG juga menjelaskan Indonesia memiliki 127 gunung api aktif dan berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Kondisi tersebut memungkinkan sejumlah gunung mengalami erupsi pada waktu yang berdekatan tanpa harus memiliki keterkaitan satu sama lain.
Sementara itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau memang kembali meningkat. Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam sejak 4 September hingga 6 September 2026. Status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media