Ekonomi . 14/09/2026, 11:24 WIB

Rupiah Tertekan ke Rp17.614 per Dolar AS, Dibayangi Suku Bunga The Fed

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin, 14 September 2026. Rupiah dibuka melemah 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.614 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.611 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova mengatakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.600 - Rp17.680 dipengaruhi oleh global melemahnya mayoritas mata uang kawasan akibat kenaikan harga minyak seiring meningkatnya risiko geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed Kamis (17/9) minggu ini,” ungkapnya.

Menurut Rully, suku bunga The Fed diperkirakan naik 25 basis points (bps) menjadi 4 persen.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed Tekan Rupiah

Perkiraan kenaikan suku bunga The Fed juga berpotensi memengaruhi langkah Bank Indonesia (BI). Rully memperkirakan BI dapat mengambil sikap hawkish pada pekan depan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG).

Tekanan terhadap rupiah juga muncul seiring kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang telah mendekati 5 persen. Yield tersebut berada di level 4,96 persen, sementara indeks dolar sudah menyentuh angka 99.

Selain faktor suku bunga dan pasar obligasi AS, ruang fiskal pemerintah juga menjadi perhatian. Rully mengatakan ruang tersebut semakin menyempit untuk mentransmisi selisih harga minyak dengan asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar 70 dolar AS per barel.

Harga Minyak WTI Tembus 100 Dolar AS

Pergerakan harga minyak turut menjadi faktor yang memengaruhi mata uang kawasan. Mengutip Xinhua, harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober menembus 100 dolar AS per barel pada Kamis (10/9).

Harga WTI untuk pengiriman Oktober bahkan sempat mencapai 100,88 dolar AS per barel. Angka tersebut naik 4,83 dolar AS atau 5,03 persen dibandingkan harga pada Rabu (9/9).

Kenaikan tersebut sekaligus menandai level tertinggi kontrak berjangka minyak mentah WTI sejak 20 Mei.

Dengan berbagai tekanan tersebut, Rully memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin bergerak dalam kisaran Rp17.600 hingga Rp17.680 per dolar AS.

Pelemahan mayoritas mata uang kawasan akibat kenaikan harga minyak, meningkatnya risiko geopolitik, serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi faktor yang membayangi pergerakan rupiah pada perdagangan kali ini.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com