Nasional . 20/09/2026, 08:40 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
“Hanya institusinya yang mewakili kebaikan dan kepentingan negara. Sedang kaum intelektual kritis dicap negatif sebagai ‘bodoh’, melengkapi perbendaharaan kata sebelumnya seperti ‘antek asing’, dan ‘londo ireng’,” katanya.
Lebih lanjut, Henri menilai orang-orang yang berada di sekitar kekuasaan cenderung dipilih berdasarkan kepatuhan dan loyalitas.
“Makanya tidak heran, jika orang orang yg ada di sekitar kekuasaan, dipilih yang tidak bicara kritis. Yang penting nurut dan loyal sebagaimana dalam tradisi prajurit atau tentara,” tulisnya.
Menurut Henri, pola tersebut bertentangan dengan nilai demokrasi yang menempatkan kritik sebagai bagian penting dalam proses pemerintahan.
“Mengabaikan nilai nilai demokratis yg menganggap kritik itu mencerdaskan, mendewasakan, dan membuat pemerintah lebih hati hati dan bijak,” lanjutnya.
Henri kemudian mengaitkan apa yang disebutnya sebagai karakter “misologist” dengan sejumlah tokoh dalam sejarah.
“Karakter Misologist yang membenci argumen kaum terdidik dilakukan dan disampaikan Prabowo itu mirip yang dulu juga dilakukan tokoh tokoh anti demokrasi seperti Mao Zedong (Cina), Polpot (Kamboja), yang garis politiknya anti terhadap orang berpendidikan tinggi,” tulis Henri.
Ia juga menyoroti latar belakang keluarga Prabowo yang merupakan putra ekonom dan intelektual Prof. Soemitro Djojohadikusumo.
“Inilah ironi Prabowo, yang notabene dia anak kandung intelektual Prof Soemitro Djoyohadikoesoemo,” katanya.
Henri mempertanyakan sikap Prabowo terhadap tradisi intelektual kritis yang menurutnya pernah melekat pada sosok ayah Prabowo.
“Aneh jika Prabowo tidak suka dengan tradisi intelektual yg kritis seperti bapaknya dulu,” tulis Henri.
Selain mengaitkannya dengan sejarah politik, Henri juga membandingkan gaya komunikasi Prabowo dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Atau inilah gaya retorika Prabowo yg mengikuti gaya komunikasi Donald Trump, pemimpin negara demokrasi tapi berkakter anti demokrasi,” katanya.
Henri menyebut Trump dikenal menggunakan strategi komunikasi yang disebutnya “Discredit Strategy”, yakni dengan menyerang atau mendiskreditkan kelompok yang kritis terhadap pemerintah.
“Trump dikenal menerapkan gaya komunikasi ‘Discredit Strategy’ yang hobinya suka menyerang dan mendiskreditkan kaum kritis di Amerika Serikat sebagai kelompok yang tidak patriotik,” tulis Henri.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media