Nasional . 22/10/2026, 23:30 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah memicu akumulasi 333.470 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di berbagai wilayah terdampak. Kementerian Kesehatan mencatat, kasus harian masih mencapai 4.522, sementara kualitas udara di sejumlah daerah berada pada kategori berbahaya.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Dr dr Ten Suyanti, menyampaikan data tersebut saat ditemui di Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa kelompok rentan perlu mendapat perhatian khusus karena risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.
"Perhatian khusus juga difokuskan pada kelompok rentan yang meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta para pekerja di luar ruangan," kata dia.
Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terkini, Kementerian Kesehatan melaporkan kualitas udara berbahaya di sejumlah wilayah, terutama di enam provinsi prioritas penanganan karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.
Di Kalimantan Tengah, tujuh kabupaten/kota masuk kategori berbahaya. Sementara itu, di Sumatera Selatan, kondisi serupa tercatat di Kota Palembang, Kota Prabumulih, dan Ogan Komering Ilir. Adapun Ogan Ilir berada pada kategori sangat tidak sehat.
Di Provinsi Jambi, kualitas udara berbahaya terdeteksi di Muaro Jambi dan Tebo, sedangkan Tanjung Jabung Timur masuk kategori sangat tidak sehat. Di Kalimantan Selatan, Kota Banjarmasin dan Tabalong tercatat memiliki kualitas udara berbahaya, sementara Barito Kuala berada pada kategori sangat tidak sehat.
Kondisi udara berbahaya juga ditemukan di Kutai Barat, Kalimantan Timur, serta Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Di Provinsi Riau, empat wilayah tercatat berada dalam kategori sangat tidak sehat.
Ten Suyanti menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik lainnya. Paparan berbagai zat tersebut berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari ISPA, asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), iritasi mata dan kulit, hingga dampak sistemik.
Perbandingan data dengan tahun sebelumnya juga menunjukkan peningkatan kasus ISPA di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Kenaikan turut tercatat di Sumatera Selatan dan Riau, dengan jumlah kasus yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Sebaliknya, tren kasus ISPA di Kalimantan Barat menunjukkan penurunan. Sementara itu, kondisi di Kalimantan Timur relatif sama, sedangkan Jambi mencatat tren yang setara dengan tahun sebelumnya.
Untuk mengurangi dampak kesehatan akibat karhutla, Kementerian Kesehatan terus memperkuat langkah promotif dan preventif. Upaya tersebut mencakup pembagian masker, edukasi kepada masyarakat mengenai pengurangan risiko krisis kesehatan, serta surveilans kualitas udara dalam ruangan dan dampak kesehatan di permukiman.
"Pemerintah aktif memantau tren penyakit akibat karhutla seperti ISPA, pneumonia, asma, serta iritasi mata dan kulit, sekaligus memastikan ketersediaan obat, bahan medis habis pakai (BMHP), dan alat kesehatan yang memadai di daerah terdampak," kata dia menegaskan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media