Internasional . 23/10/2026, 07:15 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang wilayah otonomi Tibet, China, pada Kamis. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperingatkan adanya potensi kerusakan yang meluas akibat guncangan tersebut.
Berdasarkan data USGS, gempa terjadi pada pukul 22.33 waktu setempat atau 21.33 WIB. Pusat gempa berada pada kedalaman 10 kilometer, sekitar 183 kilometer dari Kota Nagqu, di bagian utara wilayah otonomi yang secara resmi bernama Xizang.
USGS mengeluarkan peringatan kuning terkait potensi korban jiwa, yang mengindikasikan kemungkinan adanya korban meninggal. Lembaga tersebut juga menetapkan peringatan oranye untuk potensi kerugian ekonomi akibat gempa.
Peringatan oranye menunjukkan adanya kemungkinan kerusakan signifikan dengan dampak yang dapat meluas. Meski demikian, USGS memperkirakan kerugian ekonomi akibat peristiwa tersebut kurang dari satu persen dari produk domestik bruto (PDB) China.
"Peristiwa gempa sebelumnya dengan tingkat peringatan ini memerlukan respons di tingkat regional atau nasional," kata USGS dalam keterangannya.
Hingga laporan awal disampaikan, belum ada informasi mengenai korban jiwa maupun kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa tersebut. Namun, USGS mengingatkan bahwa penduduk di wilayah terdampak umumnya tinggal di bangunan yang rentan terhadap guncangan gempa bumi.
Sementara itu, otoritas China telah mengaktifkan respons darurat Level II, menurut kantor berita nasional Xinhua.
Status tersebut digunakan ketika gempa dinilai berpotensi menjadi bencana serius atau terjadi gempa dengan magnitudo 6,5 hingga kurang dari 7,0 di wilayah-wilayah penting.
Wilayah Tibet sebelumnya juga mengalami bencana besar berupa banjir bandang yang dipicu longsoran es dan batu dari Gunung Langtang Lirung di Nepal pada Agustus.
Bencana tersebut menyebabkan hampir 1.500 orang meninggal dunia di kedua sisi perbatasan, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.
Di wilayah China, jumlah korban meninggal dilaporkan mencapai 43 orang, sedangkan 519 lainnya masih hilang.
Dari warga yang dilaporkan hilang di Tibet, sebanyak 261 orang di antaranya merupakan warga negara asing, menurut laporan tersebut.
Sumber: Anadolu
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media