Nasional . 26/10/2026, 18:41 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan di Indonesia mundur sekitar 20–30 hari atau dua hingga tiga dasarian akibat pengaruh El Niño. Meski jumlah curah hujan diprediksi masih dalam kategori normal, hujan diperkirakan terkonsentrasi dalam periode yang lebih singkat sehingga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini oleh masyarakat maupun pemerintah daerah. Persiapan diperlukan untuk mengurangi risiko bencana akibat hujan yang turun dalam waktu relatif singkat.
“Musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20–30 hari, akibat pengaruh El Nino. Musim hujan juga akan terakumulasi cukup banyak dalam durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal. Jadi, kita harus bersiap mulai sekarang,” kata Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin, 26 Oktober 2026.
Faisal menjelaskan, sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Adapun puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Menurut dia, kategori sifat hujan normal mengacu pada perbandingan curah hujan dengan rata-rata klimatologi selama 30 tahun terakhir. Namun, kondisi tersebut tidak berarti risiko bencana dapat diabaikan, terutama jika hujan terkonsentrasi dalam rentang waktu yang lebih pendek.
“Sebagian wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada November hingga Desember. Puncaknya nanti pada Desember, Januari, dan Februari. Ini yang perlu kita waspadai karena sifat hujannya normal, artinya berdasarkan rata-rata klimatologi 30 tahun terakhir, jumlah hujan yang turun relatif sama, tetapi durasinya lebih pendek,” terangnya.
BMKG pun mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah pada akhir 2026 hingga awal 2027.
Bencana yang perlu diantisipasi antara lain banjir dan tanah longsor akibat tingginya intensitas hujan dalam periode tertentu. Oleh karena itu, upaya mitigasi, pemantauan kondisi cuaca, serta kesiapan menghadapi keadaan darurat perlu dilakukan sebelum puncak musim hujan tiba.
“Untuk akhir tahun ini hingga awal tahun depan, bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama,” kata Faisal.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media