Ekonomi . 02/11/2026, 17:40 WIB

Ekonom InFast Bestari Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5,4 Persen pada Kuartal III 2026

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Pergerakan pasar saham tidak selalu sejalan dengan kondisi perekonomian di sektor riil. Fenomena yang dikenal sebagai decoupling tersebut menggambarkan perbedaan arah antara main street, yang merepresentasikan aktivitas ekonomi masyarakat dan sektor riil, dengan Wall Street yang merujuk pada pasar keuangan, termasuk pasar saham.

Hal itu disampaikan peneliti InFast Bestari, Gede Sandra, kepada wartawan di Jakarta, Senin, 2 Oktober 2026. Menurutnya, gejolak di pasar saham tidak dapat secara langsung dijadikan gambaran mengenai kondisi perekonomian secara keseluruhan.

Pernyataan tersebut merespons pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin, 2 Oktober 2026. Indeks sempat melemah sekitar 1 persen pada awal perdagangan hingga berada di bawah level 5.000, sebelum kembali menguat atau mengalami rebound.

Hingga pukul 10.30 WIB, IHSG tercatat berada di posisi 5.067. Gede menilai, kondisi pasar saham dan perkembangan sektor riil perlu dianalisis secara terpisah karena keduanya tidak selalu bergerak beriringan.

Sebagai gambaran, ia merujuk pada data ekonomi jangka panjang yang diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) selama periode 2018–2026. Data tersebut menunjukkan jumlah penduduk kelas atas turun dari 1,1 juta jiwa menjadi 1,05 juta jiwa, sedangkan kelompok kelas menengah menyusut dari 59,5 juta jiwa menjadi 42 juta jiwa.

Pada saat bersamaan, jumlah masyarakat rentan miskin meningkat dari 53,3 juta jiwa menjadi 74,8 juta jiwa.

“Pada periode yang sama dengan kejatuhan kelas-kelas ekonomi di masyarakat tersebut, secara tren malah terjadi peningkatan di pasar saham, nilai IHSG dari titik terendah di 5.756 (12 Oktober 2018) sampai ke titik tertinggi 8.936 (9 Januari 2026), atau naik 55%," terang Gede Sandra.

Kredit Perbankan dan Manufaktur Jadi Penopang

Di sisi lain, Gede memperkirakan perekonomian Indonesia pada kuartal III 2026 masih mampu mencatatkan pertumbuhan sekitar 5,4 persen. Proyeksi tersebut didukung oleh penyaluran kredit perbankan nasional yang menunjukkan tren peningkatan.

Pada September 2026, pertumbuhan kredit perbankan tercatat mencapai 13,26 persen. Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan September 2025 yang hanya sebesar 7,7 persen.

Peningkatan juga terlihat pada penyaluran kredit berdasarkan jenis penggunaannya. Kredit investasi tumbuh dari 15,1 persen pada kuartal III 2025 menjadi 23 persen pada kuartal III 2026.

Sementara itu, pertumbuhan kredit modal kerja meningkat dari 3,3 persen menjadi 11,8 persen dalam periode yang sama.

Gede membandingkan kondisi tersebut dengan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 yang tercatat sebesar 5,04 persen. Dengan tren penyaluran kredit yang semakin ekspansif, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2026 seharusnya tetap berada di atas 5 persen.

Selain sektor perbankan, aktivitas industri manufaktur juga dinilai memberikan dorongan terhadap perekonomian. Indikasinya terlihat dari capaian indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur pada September dan Oktober 2026 yang masing-masing berada di angka 52,4 poin dan 54,0 poin.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Saat itu, PMI manufaktur tercatat sebesar 50,4 poin pada September dan 51,2 poin pada Oktober.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com