Ekonomi . 02/11/2026, 17:40 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
“Apalagi ada pendorong lain, yaitu dari sektor manufaktur. Terlihat dari data PMI index September dan Oktober 2026 berturut turut sebesar 52,4 poin dan 54,0 poin, lebih ekspansif ketimbang PMI September dan Oktober 2025 yang berturut-turut sebesar 50,4 poin dan 51,2 poin," pungkasnya.
Pertumbuhan 5 Persen Belum Cukup Perkuat Kelas Menengah
Meski memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tetap positif, Gede mengingatkan bahwa laju pertumbuhan sekitar 5 persen belum cukup untuk menahan penurunan jumlah masyarakat kelas menengah.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sebagian kelompok kelas menengah masih melontarkan kritik terhadap kinerja pemerintah. Mereka dinilai belum merasakan manfaat pertumbuhan ekonomi secara optimal karena laju ekspansi yang berlangsung belum cukup cepat.
Gede berpandangan, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi setidaknya 6 persen agar jumlah kelompok kelas menengah dapat kembali meningkat.
Ia juga mengacu pada catatan sejarah perekonomian Indonesia setelah era Reformasi. Pada 2007, 2008, 2010, 2011, dan 2012, ketika pertumbuhan ekonomi nasional mampu melampaui 6 persen, rata-rata pertumbuhan kredit perbankan nasional pada periode tersebut berada di atas 20 persen.
Dengan demikian, menurut Gede, peningkatan penyaluran kredit perbankan menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi sekaligus memperkuat kondisi kelas menengah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media