fin.co.id - Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte diduga membunuh lebih dari 6000 orang selama kepemimpinannya sejak 2018 hingga 2022.
Duterte selama menjadi Presiden Filipina, dia membawa slogan 'perang lawan anti narkoba' .
Dia diselidiki oleh Pengadilan Kriminal Internasional atau ICC sejak 2018 atas slogan itu.
Menurut data polisi Filipina, lebih dari 6.000 orang tewas dalam tindakan keras anti narkoba, meskipun kelompok hak asasi manusia mengklaim jumlah korban tewas sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.
Duterte yang berusia 79 tahu itu tidak menunjukkan penyesalan atas kampanye antinarkoba yang brutal itu.
Oktober lalu, ia mengatakan kepada Senat Filipina bahwa ia tidak meminta maaf, tidak ada alasan atas kebijakannya.
Baca Juga
Duterte ditangkap pada Selasa kemarin 11 Maret 2025 . Dia ditangkap saat tiba di bandara Manila dari Hong Kong. Penangkapan itu atas permintaan ICC. Duterte lalu bawa ke ICC di Den Haag Belanda pada hari itu juga untuk diadili.
Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte (Reuters)
Tak lama setelah penangkapan Veronica Duterte, salah satu putrinya, mengunggah video di Instagram yang memperlihatkan ayahnya mempertanyakan penahanannya.
"Apa hukumnya dan apa kejahatan yang saya lakukan?" katanya.
Dutertel yang saat ini berusia 79, menjasi Presiden pertama di Asia yang diseret dan diadili di ACC.
Duterte meraih kekuasaan pada tahun 2016 dengan janji kebijakan utama untuk memberantas narkoba ilegal di negara tersebut. Namun, perang anti narkoba itu dilakuka dengan cara brutal. Ribuan orang dibunuh hingga menuali kritik dunia. (*)