fin.co.id - Bank Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Juli 2025, seiring dengan kondisi likuiditas yang masih memadai dan stabilitas inflasi yang terjaga. Namun, peluang ini sangat bergantung pada perbaikan situasi eksternal.
Menurut Hosianna Evalita Situmorang, Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, salah satu faktor pendukung adalah rendahnya penerbitan SRBI bruto sebesar Rp8 triliun, sementara SRBI yang jatuh tempo mencapai Rp108 triliun pada Mei 2025. Hal ini menunjukkan ketersediaan likuiditas yang cukup luas di pasar.
"Inflasi juga relatif terkendali, didorong oleh permintaan yang lebih lemah. IMF sendiri memproyeksikan pertumbuhan Indonesia hanya 4,7% pada 2025, yang dipengaruhi oleh penyesuaian di pasar tenaga kerja dan kemungkinan langkah-langkah fiskal yang menahan harga barang-barang yang diatur," jelas Anna, sapaan akrabnya, Rabu, 23 April 2025.
Meski begitu, Bank Indonesia masih menunjukkan sikap hati-hati. BI mempertahankan suku bunga acuan BI-7DRR di level 5,75% pada April, dengan fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. "Karena risiko inflasi dari tarif timbal balik kebijakan Presiden Trump, BI cenderung hanya melakukan satu kali pemangkasan," imbuhnya.
Nilai tukar rupiah sendiri bertahan di kisaran Rp16.800 per dolar AS, didorong oleh intervensi aktif BI di pasar valas dan obligasi. Di sisi lain, posisi eksternal Indonesia tetap solid. Surplus neraca perdagangan pada kuartal pertama 2025 mencapai USD10,92 miliar atau melonjak 47% secara tahunan, didorong ekspor yang kuat dan konsumsi domestik yang stabil.
Cadangan devisa RI pun tetap terjaga di level USD157,1 miliar, setara dengan 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Meski demikian, ancaman dari tarif baru AS tetap membayangi, terutama karena produk ekspor unggulan Indonesia seperti CPO, tekstil, dan alas kaki belum sepenuhnya dikecualikan.
Pertumbuhan kredit nasional pun mencatatkan kenaikan 9,16% secara tahunan per Maret 2025, didukung oleh penyaluran Kredit Likuiditas Makro (KLM) sebesar Rp292,3 triliun, termasuk Rp84 triliun untuk sektor perumahan.
Sementara itu, IHSG yang sempat menyentuh di bawah level 6.000 pada awal April, kembali menguat ke 6.400, seiring optimisme pasar yang dipicu oleh pembelian kembali saham dan distribusi dividen oleh sektor perbankan. (*)