Murka Dedi Mulyadi Antara Fanatisme dan Empati

news.fin.co.id - 30/05/2025, 11:45 WIB

Murka Dedi Mulyadi Antara Fanatisme dan Empati

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang tengah berdialog dengan warga tiba-tiba meluapkan amarah kepada sekelompok suporter klub sepak bola lokal, Persikas Subang, yang membentangkan spanduk bertuliskan “Selamatkan Persikas”.

“Hilangnya nalar rasa, hilangnya hati, hilangnya cinta karena terlalu mengedepankan ego untuk klubnya, tapi mengabaikan derita nyata di hadapan mereka,” tegasnya.

Dedi menyadari kemarahannya akan dianggap emosional. Namun, ia menyatakan, “Silakan saja framing saya seperti itu. Tapi mendidik rakyat lebih penting daripada sekadar popularitas.”

Seluruh Suporter Dipulangkan

Setelah menjalani proses pemeriksaan dan pendataan di Polres Subang, seluruh 21 suporter telah dipulangkan ke rumah masing-masing, Kamis malam (29/5).

Advertisement

Menurut Kasatreskrim Polres Subang AKP Bagus Panuntun, “Sebagian dipulangkan malam itu juga. Sisanya menyusul karena ada kendala dalam pendataan dan komunikasi dengan orang tua.”

Sempat terjadi kerumunan di sekitar Polsek Ciasem, sehingga sebagian suporter dipindahkan ke Mapolres Subang demi keamanan. “Saat ini semua sudah kembali ke rumah dan tidak ada tuntutan hukum lebih lanjut,” tutup Bagus.

Insiden ini menyadarkan kita akan pentingnya menjaga konteks dalam menyuarakan aspirasi. Di satu sisi, suporter memiliki hak menyuarakan kecintaan terhadap klub daerahnya, apalagi jika ada ancaman akuisisi. Namun di sisi lain, tidak semua panggung adalah ruang yang tepat.

Fanatisme yang membutakan rasa empati justru akan mengaburkan makna perjuangan itu sendiri. Semoga insiden ini menjadi pelajaran: bahwa membela yang dicintai harus tetap dilakukan dengan hati, bukan hanya suara.

Khanif Lutfi
Khanif Lutfi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID