fin.co.id - Sidang Tahunan MPR RI bersama DPR RI dan DPD RI serta Sidang Paripurna DPR RI Masa Persidangan I Tahun Sidang 2025–2026 resmi digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat, 15 Agustus 2025. Dalam forum bergengsi ini, Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan pentingnya ruang kebebasan berpendapat serta makna kritik dalam menjaga demokrasi Indonesia.
Apa yang Disampaikan Puan Maharani?
Puan menekankan bahwa demokrasi sejati harus memberi ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berserikat, berkumpul, menyampaikan pendapat, dan melontarkan kritik. Menurutnya, suara rakyat adalah fondasi dari sistem demokrasi yang sehat.
"Dalam demokrasi, rakyat harus memiliki ruang yang luas untuk berserikat, berkumpul, menyatakan pendapat, dan menyampaikan kritik," ujar Puan di hadapan anggota parlemen dan tamu undangan.
Bagaimana Kritik Masyarakat Disampaikan di Era Digital?
Perkembangan teknologi informasi, khususnya media sosial, disebut Puan telah menghadirkan pola baru dalam menyampaikan aspirasi publik. Kritik kini tidak lagi disampaikan hanya melalui forum resmi, melainkan lewat berbagai bentuk ekspresi kreatif di ruang digital.
Puan mencontohkan ungkapan populer yang sering viral, mulai dari kalimat singkat seperti “kabur aja dulu”, sindiran tajam seperti “Indonesia Gelap”, hingga simbol budaya pop seperti “negara Konoha” atau penggunaan “bendera One Piece”. Menurutnya, ekspresi semacam ini menggambarkan keresahan masyarakat dengan bahasa zaman mereka sendiri.
Bagaimana Sikap Pemegang Kekuasaan Terhadap Kritik?
Puan mengajak seluruh pemegang kekuasaan untuk menyikapi kritik publik dengan kepala dingin. Kritik, kata dia, tidak boleh dipandang sekadar sebagai kata-kata atau gambar di media sosial, melainkan pesan yang mewakili keresahan dan harapan rakyat.
"Di balik setiap kata ada pesan. Di balik setiap pesan ada keresahan. Dan di balik keresahan itu ada harapan. Karena itu, yang dituntut dari kita semua adalah kebijaksanaan," tegasnya.
Ia menambahkan, kebijaksanaan berarti tidak hanya mendengar, tetapi juga memahami. Tidak hanya menanggapi, tetapi merespons dengan hati yang jernih dan pikiran terbuka.
Mengapa Kritik Penting dalam Demokrasi?
Puan menegaskan bahwa kritik yang sehat merupakan pilar utama dalam demokrasi. Kritik tidak boleh menjadi bara yang membakar persaudaraan atau memecah belah bangsa. Sebaliknya, kritik harus menjadi cahaya yang menerangi jalan bersama.
"Kritik dapat keras dalam substansi dan menentang kebijakan, namun kritik bukan alat untuk memicu kekerasan, kebencian, atau menghancurkan etika dan moral masyarakat, apalagi kemanusiaan," jelas Puan.