Menariknya, data dari satelit CALIPSO (Cloud-Aerosol Lidar and Infrared Pathfinder Satellite Observation) menunjukkan aerosol bisa mencapai ketinggian hingga 15 kilometer di atmosfer. Namun, tidak semua partikel bisa ikut hujan. Sebagian akan kembali jatuh ketika kondisi udara tenang.
Mikroplastik Bisa Menempuh Jarak Jauh
Dwi menegaskan bahwa mikroplastik di Jakarta belum tentu berasal dari Jakarta sendiri. Fenomena ini disebut “transportasi polutan” (pollutant transport), yaitu perpindahan partikel pencemar antarwilayah melalui angin.
“Artinya, mikroplastik yang ditemukan di Jakarta bisa saja berasal dari wilayah lain atau sebaliknya, partikel dari Jakarta terbawa ke daerah lain,” katanya.
Letak Indonesia yang berada di garis ekuator juga berpengaruh. Tingginya radiasi matahari dan aktivitas pembakaran terbuka saat musim kemarau menyebabkan partikel mikroplastik mudah naik ke atmosfer dan berpindah ke tempat lain.
Saat angin bertiup dari arah timur hingga tenggara, polutan dari daerah-daerah tersebut bisa menuju Jakarta, dan begitu pula sebaliknya.
Dampak Mikroplastik
Setelah partikel mikroplastik mencapai permukaan, ia tidak berhenti di situ. Dwi menjelaskan, partikel tersebut bisa masuk ke sungai, danau, atau laut, menjadi sumber baru pencemaran perairan.
“Begitu sampai di permukaan bumi, partikel mikroplastik dapat terbawa aliran air menuju laut.
Siklus ini terus berulang dan memperparah polusi plastik di lingkungan,” ujarnya.
Kondisi iklim tropis di Indonesia yang memiliki tingkat penguapan dan pembentukan awan tinggi juga mempercepat siklus deposisi partikel tersebut. Akibatnya, mikroplastik terus bergerak dan sulit dikendalikan.
Polusi Plastik Kini Menyentuh Langit