Saat itu, Jonan dengan tegas menilai bahwa operasional 24 jam belum terlalu mendesak dan berisiko. Menurutnya, waktu pukul 00.00 hingga 05.00 pagi lebih baik dipakai untuk maintenance daripada mengangkut penumpang yang jumlahnya mungkin sangat sedikit (minim).
"Siapa yang mau naik malam-malam begitu, KRL terakhir pukul 23.30 setiap malam saya pikir sudah cukup," kata Jonan kala itu.
Pelajaran dari masa lalu ini mengajarkan bahwa tanpa maintenance rutin, kualitas layanan justru akan anjlok. KAI dan Kemenhub saat ini sedang mengkaji ulang (re-evaluasi) apakah kondisinya sudah memungkinkan atau belum.
Bagaimana Kota Besar Dunia Mengatur Kereta Malam?
Banyak netizen yang membandingkan Jakarta dengan kota-kota di luar negeri. "Di luar negeri aja bisa 24 jam, masa kita nggak?"
Eits, tunggu dulu. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas kota besar dunia justru TIDAK mengoperasikan kereta 24 jam setiap hari, lho. Berikut rangkumannya:
1. New York City Subway (Amerika Serikat) ????????
Ini adalah pengecualian langka. Subway New York memang beroperasi 24 jam sejak 1904.
-
Rahasianya: Mereka punya 4 jalur rel (quadruple track). Jadi, kalau satu jalur diperbaiki, kereta masih bisa lewat di jalur sebelahnya. Jabodetabek belum punya infrastruktur semewah ini di seluruh lintasan.
2. Tokyo (Jepang)
Siapa sangka, negara se-canggih Jepang keretanya TIDAK 24 jam.
-
Alasannya: Mereka sangat disiplin soal keselamatan. Kereta berhenti sekitar pukul 00.30 s.d 05.00 pagi khusus untuk perawatan massal yang butuh waktu 3-4 jam.
3. London Underground (Inggris)
Kereta "Tube" London tidak beroperasi 24 jam setiap hari.
-
Solusinya: Mereka punya layanan "Night Tube" hanya di akhir pekan (Jumat & Sabtu malam) di jalur tertentu. Hari biasa? Tetap tutup malam hari untuk maintenance.