Nasional . 08/12/2025, 10:18 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dwikorita Karnawati, kembali mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana ekstrem akibat kondisi atmosfer yang semakin labil dan intensitas hujan yang terus meningkat.
Menurut Dwikorita, rentetan bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi sinyal kuat bahwa ancaman serupa bisa terjadi di daerah lain yang memiliki karakter bentang alam yang mirip, terutama wilayah dengan lereng curam, alih fungsi lahan yang masif, serta berada di zona tektonik aktif.
“Peristiwa ini menunjukkan kerentanannya kawasan dengan lereng curam, daerah yang mengalami alih fungsi lahan, serta zona tektonik aktif dengan kondisi geologi yang rapuh,” ujar Dwikorita, dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (5/12/2025).
Dwikorita menjelaskan, salah satu bahaya terbesar dari hujan ekstrem di kawasan pegunungan adalah aliran debris, yakni campuran lumpur, batu, kayu, dan sedimen yang bisa bergerak sangat cepat.
Aliran ini memiliki daya hancur luar biasa. Dalam hitungan detik, material berat tersebut bisa:
Menghantam permukiman warga
Merusak jembatan dan jalan
Menyapu lahan pertanian
Mengancam keselamatan jiwa
Karena itu, masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, kaki bukit, serta kawasan tebing diminta untuk benar-benar meningkatkan kewaspadaan.
“Aliran debris sangat destruktif dan membutuhkan respons segera dari warga yang berada di zona rawan,” tegasnya.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi kemunculan bibit siklon tropis diperkirakan akan meningkat mulai Desember hingga Maret atau April tahun berikutnya. Fenomena ini terutama terjadi di wilayah belahan selatan Bumi.
Wilayah yang berada di selatan khatulistiwa pun diminta berada dalam kondisi siaga penuh, meliputi:
Jawa
Bali
Nusa Tenggara
Sulawesi bagian selatan dan tenggara
Maluku
Papua bagian selatan
“Wilayah-wilayah tersebut seharusnya sudah bersiaga terhadap cuaca ekstrem, sebagaimana yang baru saja terjadi di Sumatera,” ujar Dwikorita.
Dwikorita menekankan bahwa peringatan dini cuaca dari BMKG tidak cukup jika tidak diikuti dengan kesiapan masyarakat di lapangan. Menurutnya, yang paling penting adalah penguatan kapasitas warga untuk merespons secara cepat dan tepat saat tanda-tanda bahaya muncul.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media