fin.co.id – Indonesia menghadapi krisis kesehatan yang mematikan. Penyakit kardiovaskular, termasuk stroke, penyakit jantung iskemik, dan penyakit jantung hipertensi, kini berada di urutan teratas penyebab kematian di Tanah Air. Data Kementerian Kesehatan (2025) sangat mencengangkan: sekitar 800.000 orang Indonesia meninggal akibat penyakit kardiovaskular setiap tahunnya!
Angka ini menunjukkan bahwa pengendalian faktor risiko, khususnya kadar kolesterol Low-Density Lipoprotein Cholesterol (LDL-C) atau "kolesterol jahat," bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mutlak. Kolesterol LDL-C adalah musuh utama karena menumpuk di dinding pembuluh darah, memicu peradangan, penyempitan, dan pada akhirnya menjadi pemicu utama kematian massal tersebut.
Dalam rangka melawan epidemi ini, Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Daewoong) mengambil langkah proaktif. Perusahaan ini menyelenggarakan talk show kesehatan bagi 50 pasien dislipidemia di Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari peluncuran kampanye besar bertajuk “The Lower, The Better”.
Kampanye "The Lower, The Better": Kunci Menyelamatkan 800 Ribu Nyawa
Pesan utama kampanye “The Lower, The Better” sangat jelas dan tegas: jaga kadar kolesterol jahat (LDL-C) serendah mungkin. Ini bukan sekadar anjuran, tetapi strategi berbasis data klinis yang vital.
Dr. Stella Melisa, Chief Medical Officer Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menjelaskan landasan ilmiah di balik kampanye ini. “Data klinis menunjukkan bahwa setiap penurunan LDL-C sebesar 40 mg/dL dapat menurunkan risiko kardiovaskular sekitar 20–25%,” ujarnya. Ini adalah angka penurunan risiko yang sangat besar dan harus dikejar.
Lebih lanjut, dr. Stella mengacu pada panduan medis terbaru yang menegaskan urgensi ini. “Panduan terbaru ESC (European Society of Cardiology) juga merekomendasikan pencapaian LDL-C serendah dan sedini mungkin.”
Dengan populasi Indonesia yang mencapai sekitar 286 juta orang dan hampir 800.000 kematian akibat penyakit jantung setiap tahun, dr. Stella menegaskan bahwa “’The Lower, The Better’ adalah langkah pertama yang sangat penting dalam pencegahan bagi pasien berisiko tinggi.” Pengendalian dini dan manajemen berkelanjutan terhadap dislipidemia menjadi sangat mendesak.
Spesialis Jantung Bongkar Target Gagal: Belum Sampai 10% Pasien Capai Sasaran!
Dr. dr. Birry Karim, Sp.PD, KKV, Dokter Spesialis Kardiovaskular dari Rumah Sakit Medistra, dalam sesinya, memberikan edukasi mendalam. Ia menyoroti adanya jurang besar antara target terapi ideal dan realitas di lapangan.
Dr. Birry mengungkapkan bahwa banyak pasien dislipidemia di Indonesia masih jauh dari target. “Banyak pasien dislipidemia masih belum mencapai target LDL-C <70 mg/dL, dan pada kelompok pasien berisiko sangat tinggi, kurang dari 10% yang mencapai target 55 mg/dL.” Ini adalah data yang harus membuat kita semua khawatir. Mayoritas pasien berisiko tinggi ternyata gagal mencapai level aman!
Apa yang menjadi penyebab kegagalan terapi ini? Dr. Birry menyebutkan tiga faktor utama: dosis statin yang tidak memadai, efek samping terkait otot dari statin intensitas tinggi, dan yang paling krusial adalah penghentian obat oleh pasien.
“Pada akhirnya, kepatuhan terapi yang berkelanjutan adalah fondasi strategi ‘The Lower, The Better’,” tegasnya. Jika pasien tidak disiplin minum obat, seluruh upaya terapi akan sia-sia.
Solusi Baru: Kombinasi Satu Tablet untuk Kepatuhan Jangka Panjang
Untuk mengatasi masalah kepatuhan dan mencapai target LDL-C yang sangat rendah, Dr. Birry menjelaskan pentingnya evolusi dalam pengobatan dislipidemia.