fin.co.id – Tragedi kebakaran hebat di gedung Terra Drone, Jalan Letjen Suprapto, Kemayoran, Jakarta Pusat, menyisakan kisah pilu yang menusuk hati. Di antara puluhan korban yang tewas, salah satunya adalah seorang wanita yang sedang hamil besar, bahkan sudah mendekati Hari Perkiraan Lahir (HPL) pada awal tahun 2026.
Sepupu korban, Prasetyo, memastikan bahwa korban tersebut tengah mengandung anak pertamanya. “Anak pertama, udah tua ya (usia kandungannya). Kemungkinan Januari itu udah mau HPL-nya ya,” jelas Prasetyo saat ditemui di Rumah Sakit (RS) Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa, 9 Desember 2025.
Kepergian calon ibu ini menjadi pukulan telak bagi keluarga. Suami dan keluarga korban, yang berasal dari Lampung, sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Mereka berencana membawa pulang jenazah korban untuk dimakamkan di tanah kelahiran di Lampung. Perjalanan duka ini menambah berat cobaan yang harus ditanggung keluarga.
Terjebak Asap Lantai 5: Perjuangan yang Gagal
Menurut informasi yang diterima Prasetyo, korban nahas tersebut berusaha mengevakuasi diri dari lantai 5 menuju lantai 1. Sayangnya, upaya penyelamatan diri itu gagal total. Kepulan asap tebal dan beracun telah melambung tinggi menutupi sebagian besar gedung, memutus jalur pelarian mereka.
“Iya terjebak di lantai 5. Mau turun ke lantai 1 karena api sudah membesar. Jadi balik lagi ke lantai 5 dan terjebak di situ,” terang Prasetyo. Keputusan kembali ke lantai 5, meskipun berisiko, mungkin menjadi pilihan terakhir ketika jalur turun sudah tidak memungkinkan dilewati karena asap pekat. Tragisnya, asap tersebut menjadi penyebab utama kematian puluhan korban lainnya.
Mendengar kabar duka ini sejak sore, keluarga korban segera bergerak. “Keluarga istri lagi otw ke sini ya sekalian dimakamkan di Lampung,” kata Prasetyo, menggambarkan kesibukan dan kesedihan yang dialami keluarga untuk segera membawa jenazah pulang.
Proses Identifikasi Terhambat: Menunggu Perintah Resmi Penyidik
Di tengah suasana duka dan desakan keluarga, proses autopsi dan identifikasi jenazah korban belum dapat segera dilakukan. Kepala RS Polri Kramat Jati, Brigjen Polisi Prima Heru Yulihartono, menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk memulai pemeriksaan sebelum adanya permintaan resmi dan tertulis dari penyidik.
“Saat ini kita belum melakukan pemeriksaan karena belum ada permintaan dari penyidik. Kita menunggu surat dari penyidik untuk dilakukan pemeriksaan dan identifikasi,” jelas Prima di Jakarta, Selasa, 9 Desember 2025.
Meskipun proses tertunda karena prosedur hukum, Prima memastikan bahwa seluruh tim forensik RS Polri telah disiagakan penuh dan siap bekerja kapan pun surat perintah diterima. RS Polri telah menyiapkan 11 tim identifikasi, yang terdiri dari tim antemortem (data sebelum kematian), postmortem (data setelah kematian), hingga tim DNA. Kesiapan ini didukung penuh oleh kerja sama dengan Universitas Indonesia serta Inafis.
Imbauan Penting: Keluarga Diminta Bawa Data Pendukung
Keluarga korban kebakaran gedung Terra Drone sudah mulai berdatangan ke RS Polri Kramat Jati untuk mengikuti pendataan awal di posko antemortem. Pendataan ini menjadi tahap krusial sebelum proses identifikasi resmi dimulai.
Prima mengimbau keluarga korban yang merasa kehilangan untuk membantu mempercepat proses identifikasi jenazah. Caranya? Dengan membawa dokumen pendukung yang dapat mencocokkan data korban secara akurat.
“Permohonan kami kepada keluarga yang merasa kehilangan, agar dapat membawa foto korban, terutama yang memperlihatkan gigi, serta identitas lainnya. Jika ada data sidik jari atau dokumen pendukung lain, itu akan sangat membantu,” terang Prima. Data gigi (odontogram) seringkali menjadi kunci utama dalam identifikasi jenazah korban kebakaran.