Ekonomi . 12/12/2025, 15:51 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, baru saja menjadi saksi peluncuran inovasi game-changer di sektor kepabeanan, tetapi suasana konferensi pers tiba-tiba memanas! Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka mengungkapkan kegeramannya. Apa pemicunya? Purbaya kesal karena ada pihak-pihak yang menyamakan alat pemindai peti kemas berbasis Kecerdasan Buatan (AI) milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dengan alat kesehatan yang dipakai Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sebuah perbandingan yang dinilai offside dan sangat tidak relevan!
"Jangan banding ke Kementerian Kesehatan dong, tersinggung gue," ujar Purbaya dengan nada tegas saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat 12 Desember 2025. Perbedaan fundamental fungsi alat yang digunakan DJBC dan Kemenkes memang sangat kontras. Alat milik Bea Cukai bertugas menyaring barang impor ilegal dan memastikan verifikasi data, sementara alat Kemenkes fokus pada aspek kesehatan.
Peluncuran ini merupakan bagian dari upaya besar DJBC untuk mengintegrasikan teknologi terkini. Selain alat X-Ray peti kemas terbaru, mereka juga memperkenalkan inovasi digital lain bernama Self Service Report Mobile (SSR-Mobile) dan Trade AI. Inovasi ini menegaskan satu hal: Bea Cukai sangat serius menutup celah bagi penyelundupan dan impor ilegal yang merugikan negara!
AI Bea Cukai Bekerja Cerdas: Akurasi 90% Hanya Awal!
Menkeu Purbaya tidak menampik bahwa teknologi AI, secanggih apa pun, pasti punya celah kekurangan. Namun, keberadaan AI inilah yang justru akan membuat celah bagi penyelundup barang impor ilegal menjadi semakin sempit. Purbaya mengklaim, tingkat akurasi pemindai peti kemas berbasis AI ini sudah mencapai 90 persen! Sebuah angka yang menjanjikan, namun Menkeu yakin potensi AI bisa lebih dari itu.
Purbaya menjelaskan, teknologi AI ini memiliki kemampuan unik: belajar (learning). Artinya, AI akan terus menyempurnakan dirinya dari waktu ke waktu. "AI ini sesuatu yang bisa belajar. Yang pasti pertama akurasinya enggak mungkin 100%, karena dia akan belajar," ujar Menkeu Purbaya.
Proses pembelajarannya sangat sistematis. Data dari hasil pemindaian AI akan dibandingkan dengan verifikasi yang dilakukan petugas di lapangan. Jika ada perbedaan, hasil verifikasi lapangan ini akan dimasukkan lagi sebagai masukan tambahan ke dalam sistem. Dengan demikian, "AI-nya bisa belajar," kata Purbaya. Ini adalah siklus perbaikan tanpa henti yang bertujuan menuju kesempurnaan akurasi.
Proyeksi Untung Besar Bagi Negara dan Kontrol Mutu Petugas!
Penggunaan teknologi berbasis AI ini bukan hanya soal akurasi, tetapi juga membawa keuntungan jangka panjang yang masif bagi penerimaan negara. Menkeu Purbaya memproyeksikan teknologi ini akan sangat menguntungkan dari segi pantauan verifikasi data di Bea Cukai. Jadi, meskipun akurasi saat ini diklaim 90 persen, dampak keuntungannya terhadap negara bisa jauh lebih besar.
"Kalau sekarang mereka bilang sih 90% (akurasinya), tapi saya pikir masih di bawah itu," tutur Purbaya jujur. Namun, fokus utamanya bukan hanya pada angka di awal, tetapi pada fungsi kontrol yang dimilikinya. AI berfungsi sebagai mata tambahan bagi Menkeu untuk mengawasi kinerja petugasnya.
Purbaya mengungkapkan strategi kontrolnya: "Nanti dari AI itu nanti keluar perkiraan awal selisihnya berapa. Nanti ketika realisasinya berubah terlalu banyak, saya bisa langsung memeriksa orang yang memverifikasinya; dia bekerja benar atau AI-nya yang salah? Jadi ke depan itu memotret."
Inilah inti dari inovasi ini: AI tidak hanya bertugas memindai, tetapi juga menjadi alat kuantitatif yang kuat untuk melihat bagaimana orang-orang di lapangan bekerja. Jika ada selisih besar antara perkiraan AI dan verifikasi petugas, maka Bea Cukai bisa langsung mengaudit petugas tersebut. Ini adalah sistem pengawasan internal yang sangat ketat dan transparan. Tujuan utamanya jelas: menjamin integritas petugas dan meminimalisir korupsi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media