Internasional . 13/12/2025, 21:53 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Kementerian Dalam Negeri Kamboja melaporkan 10 warga sipil tewas, di antaranya seorang bayi, akibat serangan tersebut. Tuduhan ini memperkuat kekhawatiran internasional terkait keselamatan warga sipil di zona konflik.
Namun, Thailand membantah keras tuduhan tersebut.
Sebaliknya, militer Thailand menuding pasukan Kamboja telah menembakkan roket ke dekat Rumah Sakit Phanom Dong Rak di Provinsi Surin. Lokasi ini disebut-sebut pernah menjadi target serangan dalam konflik sebelumnya pada Juli lalu.
Di Provinsi Sa Kaeo, Thailand, kepanikan meluas di kalangan warga sipil. Banyak warga memilih mengungsi secara mandiri demi menyelamatkan diri.
“Saya harus lari menyelamatkan diri. Ini sudah kedua kalinya saya mengungsi dalam lima bulan terakhir,” kata Niam Poda (62), seorang petani tebu.
Militer Thailand juga telah memberlakukan jam malam di beberapa wilayah Sa Kaeo guna mengendalikan situasi keamanan.
Dari Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali angkat bicara. Ia mengaku siap menghubungi langsung para pemimpin Kamboja dan Thailand, serta yakin dapat menghentikan konflik tersebut.
“Saya rasa saya bisa membuat mereka berhenti bertempur. Siapa lagi yang bisa?” ujar Trump.
Sebelumnya, Amerika Serikat, China, dan Malaysia selaku Ketua ASEAN sempat memediasi gencatan senjata pada Juli, yang kemudian diperkuat dengan deklarasi lanjutan pada Oktober. Namun, perjanjian itu akhirnya ditangguhkan oleh Thailand.
Meski tekanan internasional meningkat, Thailand kini menegaskan tidak membuka ruang mediasi dari pihak ketiga dalam waktu dekat.
“Ini bukan waktu untuk berdialog. Warga kami telah menjadi korban, dan kepercayaan harus dipulihkan lebih dulu,” tegas Nikorndej Balankura, juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media