Jangan Hanya Patok Umur! Ini Usia Ideal Anak Masuk Sekolah Formal Menurut IDAI

news.fin.co.id - 24/12/2025, 19:16 WIB

Jangan Hanya Patok Umur! Ini Usia Ideal Anak Masuk Sekolah Formal Menurut IDAI

Palajar Sekolah Dasar.

Maturasi area ini umumnya baru mulai berkembang optimal pada usia 5–6 tahun. Inilah sebabnya anak usia prasekolah masih sering tantrum, sulit fokus, dan belum konsisten mengikuti aturan.

Apa Saja Tanda Anak Siap Masuk Sekolah Formal?

Menurut IDAI dan hasil kajian para pendidik taman kanak-kanak, kesiapan sekolah mencakup beberapa aspek utama yang saling berkaitan:

  1. Kesiapan Sosial-Emosional

    Anak mampu berpisah sementara dari orang tua, mengelola emosi, serta berinteraksi dengan teman sebaya.

  2. Kesiapan Fisik dan Motorik

    Anak cukup sehat, jarang sakit berat, memiliki koordinasi motorik kasar dan halus yang baik.

  3. Bahasa dan Komunikasi

    Mampu menyampaikan kebutuhan secara lisan, memahami instruksi sederhana, dan berkomunikasi dua arah.

  4. Kognitif

    Memiliki rasa ingin tahu, mampu mengenali pola sederhana, serta memahami konsep dasar.

  5. Kesiapan Cara Belajar

    Mampu duduk dan fokus dalam waktu tertentu, mengikuti arahan guru, serta tidak mengganggu teman.

Advertisement

Jika aspek-aspek ini belum terpenuhi, memaksakan anak masuk sekolah formal justru berisiko menimbulkan masalah di kemudian hari.

Risiko Anak Masuk Sekolah Terlalu Dini

Keinginan agar anak cepat sekolah sering muncul dari anggapan bahwa semakin dini belajar, semakin baik hasilnya. Namun menurut Dr. Hesti, sejumlah penelitian justru menunjukkan dampak sebaliknya.

“Ada jurnal yang menyebutkan bahwa anak yang masuk sekolah lebih muda dari rata-rata usianya memiliki risiko lebih tinggi mengalami perilaku hiperaktif,” jelasnya.

Perbedaan usia dalam satu kelas bisa menyebabkan perbedaan kematangan emosi dan perilaku. Anak yang lebih muda sering kali:

  • Sulit mengontrol emosi

  • Mudah terdistraksi

  • Kesulitan mengikuti aturan kelas

  • Mengalami tekanan sosial

Dalam jangka panjang, anak juga berisiko mengalami masalah kepercayaan diri dan adaptasi sosial. Dari sisi fisik, anak yang sering sakit, kurang tidur, atau mengalami gangguan nutrisi akan kesulitan mengikuti ritme belajar di sekolah.

Masalah sederhana seperti gangguan pendengaran, penglihatan kabur, atau sumbatan kotoran telinga yang belum terdeteksi pun dapat menghambat kemampuan anak menyerap pelajaran.

IDAI menekankan bahwa perkembangan kognitif tidak muncul secara tiba-tiba saat anak masuk sekolah. Pembentukan sinaps otak, yakni sambungan antar sel saraf, membutuhkan stimulasi yang konsisten dan sesuai usia sejak dini.

Oleh karena itu, pendidikan informal di rumah dan pendidikan non formal seperti PAUD atau TK memiliki peran penting dalam mempersiapkan anak. Pembiasaan life skills, pengelolaan emosi, serta interaksi sosial yang sehat menjadi fondasi utama sebelum anak memasuki sekolah formal. (*)

Advertisement
Derry Sutardi
Derry Sutardi
Penulis

Redaktur Pelaksana - FIN.CO.ID